Sunday, September 24, 2017
Beranda > BMI Menulis > Akhirnya, Nenek Mengerti Kenapa Aku Berjilbab

Akhirnya, Nenek Mengerti Kenapa Aku Berjilbab

jilbab

jilbabSUATU hari setelah sholat Zhuhur aku bersiap-siap pergi ke agent untuk interview dengan majikan baru. Sengaja aku memakai kerudung supaya majikan tahu keseharian ku berhijab.

Dulu, di majikan lama aku tidak diizinkan berhijab. Semoga kali ini bisa menutup aurat setiap hari.

Satu jam berlalu, ketika aku duduk di kantor menunggu calon majikan, rasa lapar menyergap! Aku izin keluar untuk makan siang. Aku temui teman-temanku yang sudah lama duduk di taman. Aku pun bergabung makan bareng sama mereka.

Di sela makan, handphoneku berdering, ternyata dari kantor menyampaikan majikanku segera datang. Aku berlari meninggalkan teman-teman sesama BMI, berharap aku lebih awal datang dari mereka.

Bersukur sekali, ketika kubuka pintu kantor dan melihat ruangan hanya ada dua cece yang sedang bertugas. Artinya, calon majikanku belum datang. ”Alhamdulilaah…” syukurku.

Selang beberapa menit, datang seorang nenek dan sepasang suami-istri yang tampil wibawa dan cantik. Kusapa mereka dengan senyuman, berlanjut interview dan obrolan lainnya.

Di akhir obrolan, aku coba memberanikan diri untuk izin sholat 5 waktu dan berhijab selama kerja di rumah. Awalnya mereka tidak mengerti apa yang kuomongkan, tapi dengan bantuan cece akhirnya mereka tahu dan paham perihal ijin berhijab.

”Gak apa-apa, aku izinkan kalau cara sholatmu tak bersuara , tidak mengganggu nenek tidur,” ucap nyonya.

Dua Bulan Kemudian

”Nawaaa…” panggil nyonya dengan logat Hong Kongnya menambahi ahiran A di ahir kalimatnya.
”Iya, ada apa?” jawabku.
”Besok kita belanja bareng ke pasar,’ katanya.
”Iya,” jawabku.

Keesokan harinya selesai sarapan, aku menunggu majikanku keluar kamar.Tidak berapa lama kemudian, pintu kamar terbuka. Di balik pintu sudah berdiri seorang perempuan berperawakan tinggi, rambutnya terurai dengan setelan jas dan roknya, dan seorang laki-laki bertubuh kekar dengan berpakaian kemeja rapi ikut berjalan di belakangnya. Keduanya tampil elok dan tampan. Ya, itu majikanku! Seorang pemilik salah satu kantor properti di negeri beton.

”Ayo, berangkat…” ajak nyonya, membuyar lamunanku.

Di perjalanan, mereka asyik ngobrol. Sedangkan aku di belakangnya sedang asyik melihat layar handphone, berkirim pesan sama ibu di rumah.

”Nawa, kenapa sih rambutmu harus kaututupi setiap keluar rumah?” pertanyaan sinsang tiba-tiba menerkamu

Entah kenapa mereka selalu menanyakan pertanyaan itu! Tak puas mungkin dengan jawabanku sebelumnya. Mereka pertama kalinya punya pekerja yang berhijab di rumah.

”Haruskah?” sinsang memperkuat pertanyaannya. ”Nawa, kamu denger ‘ga saya ngomong?”

Pertanyaan sinsang yang bertubi-tubi membuat lidah dan mulutku terkunci. Walhasil, aku jawab dengan sedikit rasa kesal. ”Dhai dhai sinsang, jilbab itu identitasku! Dalam keyakinanku, wanita tidak boleh memperlihatkan anggota tubuh, keculai muka dan telapak tangan,'” jelasku pada mereka sambil kupegang kepala.

Sinsang hanya tersenyum mendengar jawabanku. Sesekali ngelirik dhaidhai sedang mencari sesuatu di handphonenya.

”Emang ga kepanasan ditutup rapat gitu? ” dhai dhai (majikan perempuan) kembali melanjutkan pertanyaan sinsang (majikan laki-laki). ”Tidak, di Indoesia jauh lebih panas dari pada Hong Kong.”

Akhirnya mereka pun diam dan melanjutkan obrolan masing-masing.

Malamnya, seperti biasa selesai masak sambil nunggu majikan datang. Aku duduk di dapur. Sedangkan di ruang TV ada kedua anak majikan tengah asik main game kesuakaannya.

Di sudut ruangan juga ada nenek yang sedang menikmati kenyamanan duduknya di kursi pijit. Majikan pun datang. Dinner berlangsung dengan hidmat.

Selesai makan, mereka pindah duduk di ruang TV. Aku dengan sigap beres-beres meja dan mencuci piring. Candaan mereka membahana membuatku yang tinggal dan kerja di rumahnya semakin bersemangat bekerja. Suasana ruangan semakin harmonis ketika mereka berduet karaoke menyanyikan sebuah lagu yang tidak kupahami artinya.

Hari berikutnya, hari yang bagiku matahari tepat di atas kepala, panas sekali. Selesai nyiapin sarapan buat majikan, aku bersiap-siap belanja sama nenek. Siang itu tumben melihat mimik wajah nenek tidak seperti biasanya, kayaknya ada sesuatu hal yang mau dia omongin. Dia melihat lekat diriku ketika aku bolak-balik ke WC, ganti baju panjang, dan jilbab.

”Heeeeeehhk…kamu gila ya” desahan nenek pun keluar. ”Sekarang ‘kan panas, ko kepalamu ditutupin, pake kaos panjang lagi” lanjutnya.

Tak sempat kutanggap ucapan nya, nenek sudah menutup pintu, keluar berangkat pasar, meninggalkan suara benturan pintu tertutup. Spontan aku geleng-geleng kepala, menelan ludah sakit hati dan mengelus dada. ”Kuatkan, gusti…” harapku meminta pertolongan-Nya. Segera ku berangkat, menyusul nenek.

Sesampainya di terminal,tempat biasa ketemu nenek, aku duduk termenung memikirkan kajadian tadi.Aku berharap suatu saat nanti nenek mengerti akan keyakinanku, seperti halnya dhai dhai dan sinsang.

Nenek pun datang, raut wajahnya masih terlihat sama ketika masih di rumah.Aku berjalan mengikuti tak jauh darinya. Di tengah keramaian dan panasnya pasar nenek tidak habis habisnya melontarkan kekesalan pada ku.

”Kamu lihat mereka! Mereka orang Indonesia juga, tidak pada pake jilbab,” ucapnya sambil mennunjuk mbak-mbak (BMI Hong Kong lain) yang sedang ngobrol di jalanan pasar.

Aku diam. Tak berdaya ketika diri ini dibanding-bandingkan dengan orang lain. Aku hanya bisa ber-husnudzon, aku yakin nenek orang baik, aku yakin suatu saat nanti hatinya luruh.

Suatu Malam….

Angin sejuk menyapa, bulan tersenyum indah, bintang memancarkan cahayanya dengan sempurna.

Setiap hari ku lewati bersama nenek dengan canda tawa ketika ku bantu dia mijit. Pada suatu malam, entah obrolannya berawal dari apa, nenek banyak ketawa ketika ku menceritakan kondisi keluargaku di Indonesia.

Cerita ibu, adik kembarku, Nenek semakin menikmati nyimak ceritaku. Aku pun menggunankan kesempatan ini untuk mengalihkan obrolan, menjelaskan kenapa aku berhijab.

Aku bergegas izin keluar kamar dulu, mengambil handphoneku yang tergeletak di meja dapur. Sekembalinya di kamar, pelan-pelan kuulurkan handphoneku tepat di depan wajah nenek, tak lupa aku pakaikan kaca mata untuk nenek.

”Liat nih nek, ini foto ibu dan adik-adiku .Kami semua diharuskan pake jilbab, sekarang nenek ngerti ya? Lihat ini, adiku juga walaupun masih kecil tetep harus pake jilbab,” jelasku menunjukan foto keluarga pas lebaran.

Nenek masih menatap foto itu, sesekali memperbaiki letak kaca matanya. Entah apa yang sedang dipikirkan, tiba-tiba nenek duduk bersandar di kasur. Kulihat nenek mau mulai berkata sesuatu.

”Nawa, maafkan aku yang terkadang marah melihatmu berhijab. Lain waktu, kapan dan dimana pun, aku ‘ga bakal marah…”‘ ucapnya.

Senyum mengembang bersamaan aku dan nenek, ingin sekali memeluk dan mengucapkan terimakasih. Tapi nenek sudah menarik selimutya dan beranjak tidur.

Aku pun segera berbaring di kasur bawah. Aku bahagia! Ketika aku merasa beban beribadah di rumah majikan. Ku tutup mataku pelan-pelan, tak lupa ku meminta perlindungan-Nya.

Aku mulai beranjak ke alam mimpiku dengan membawa berjuta rasa pada malam ini. Aku bahagia!  Alhamdulilaahi rabbil’alaamiin. (Minni Adrianto/BMI Hong Kong/localhost/project/personal/ddhongkong.org/ddhongkong.org/dompetdhuafa.org).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya
http://www.localhost/project/personal/ddhongkong.org/ddhongkong.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *