Sunday, September 24, 2017
Beranda > BMI Menulis > Beban di Pundak Penjual Sepeda Pancal

Beban di Pundak Penjual Sepeda Pancal

Beban Di Pundak Penjual Sepeda Pancal

Beban Di Pundak Penjual Sepeda Pancal catur2 catur 1Sembilan sepeda pancal bekas berjejer di teras rumah Sugiono, warga Rt 45 Rw 13, Dusun Codo Selatan, Desa Codo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Rumahnya berdinding gedek (baca: anyaman bambu) bahkan di pojok dapur sudah terlihat bolong-bolong.

Terletak di area persawahan berdampingan dengan satu rumah di sebelahnya yang sama-sama berdinding anyaman bambu. Kedua rumah itu terpisah jauh dari rumah-rumah penduduk lainnya hingga terkesan terisolir.

Inilah gambaran kehidupan Sugiono, lelaki yang berprofesi sebagai penjual sepeda bekas di pasar Wajak. Ia memiliki dua anak perempuan, Catur Handayani, 18 tahun, dan Ana Mayasa, 12 tahun, serta Slamet Abidin, satu anak lelaki umur 6 tahun. Sepertinya keberuntungan hidup belum berpihak pada keluarga Sugiono.

Catur–anak pertamanya–menderita penyakit tumor kelenjar getah bening sejak 2010. Penyakit tersebut mengakibatkan fisiknya mengalami perubahan.

Kedua matanya membengkak hingga menonjol keluar, demikian pula bagian kedua pipinya terus ke leher. Terlihat benjolan di bawah mata layaknya kantong mata. Bengkak di wajahnya membuat bagian hidung terlihat kecil.

Keadaan ini membuat terenyuh 4 orang menyumbangkan dana. Mereka berasal dari kawasan Tidar, Sawojajar, dan Bangil. Uang yang terkumpul digunakan untuk biaya berobat di RS Panti Nirmala Malang.

Catur harus menjalani kemoterapi selama 8 kali. Biaya yang dihabiskan pun tidak tanggung-tanggung. Sekitar Rp 80 juta. Namun, hingga kini belum juga menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Akhirnya, dokter yang menangani penyakitnya menghentikan kemoterapi ini.

”Dokter heran kenapa tidak ada perubahan, padahal obat yang diberikan sudah sesuai dengan penyakit yang saya derita,” kata Catur kepada tim Majalah Iqro (27/12)

Beban tanggung jawab Sugiono semakin berat. Ana Mayasa, adik Catur, pun mengalami penderitaan sejak lahir karena sakit polio. Ia lahir prematur dan kelahirannya harus dibantu dengan operasi.

Sampai detik ini, Ana belum pernah mendapat penanganan medis karena orangtuanya tidak punya biaya. Akhirnya, yang bisa dilakukan Ana hanya berbaring di tempat tidur dan duduk di kursi roda.

Slamet Abidin, anak bungsu Sugiono, belum bersekolah. Tingkah lakunya seperti anak yang mencari perhatian orang lain. Misal dengan naik-naik ke kursi ketika ada orang yang berkunjung, menggedor-gedor pintu dan bila meminta sesuatu terkesan memaksa.

Semua penjagaan Ana Mayasa dan Slamet Abidin ditangani Catur ketika Sugiono bapaknya sedang bekerja., meskipun keadaannya sendiri sedang sakit. Sedangkan ibu, yang seharusnya ada merawat mereka, pulang ke rumah orang tuanya sejak 5 tahun lalu padahal belum bercerai dengan Sugiono, bapaknya Catur. (Iqro).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya
http://www.localhost/project/personal/ddhongkong.org/ddhongkong.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *