Monday, October 23, 2017
Beranda > Dunia Islam > Demonstrasi Belum Berhenti di Bahrain

Demonstrasi Belum Berhenti di Bahrain

DDHK News — Ribuan warga Bahrain berdemonstrasi di ibukota Manama menuntut perubahan rezim di kerajaan Teluk tersebut, menyusul tewasnya dua pengunjuk rasa dalam bentrokan dengan polisi.

Washington menyatakan kekhawatiran atas pembunuhan tersebut dan mendesak semua pihak untuk menahan diri. Di negara ini pada tahun 1990-an sempat terjadi kerusuhan antara penduduk mayoritas Syiah dan keluarga penguasa Sunni.

“Ini kesempatan pertama dan terakhir untuk mengubah rezim,” demikian tulisan di spanduk yang dibawa pengunjuk rasa di Manama, tak lama setelah pemakaman salah satu dari dua demonstran Syiah yang tewas.

Para aktivis cyber yang murka akan pembunuhan dua demonstran telah menyerukan demonstrasi Manama lewat situs jejaring sosial Facebook.Spanduk dan slogan demonstran Bahrain hampir sama dengan milik pengunjuk rasa di Tahrir Square, Kairo, yang setelah 18 hari berturut-turut protes, akhirnya berhasil emnurunkan presiden Husni Mubarak.

Beberapa pengunjuk rasa di Manama mendirikan tenda, menyatakan mereka tak akan beranjak sampai tuntutan mereka terpenuhi.

Desakan Amerika
Amerika Serikat mendesak Bahrain menahan diri dalam mengendalikan pengunjuk rasa yang menginginkan reformasi dalam tubuh kerajaan yang memimpin negara tersebut.

Desakan ini muncul beberapa jam setelah pihak keamanan Bahrain melakukan tindakan tegas terhadap pengunjuk rasa yang melakukan aksinya kemarin.

Mereka dipaksa meninggalkan lokasi aksi yang berlangsung di Lapangan Mutiara di ibukota Manama, Bahrain.

Tindakan pasukan keamanan ini mengakibatkan ratusan orang terluka dan empat orang tewas dalam peristiwa itu.

Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton meminta pihak keamanan Bahrain memastikan tidak ada lagi aksi kekerasan susulan hari ini khususnya pada saat keluarga korban melakukan prosesi pemakaman bagi para korban yang tewas.

“Bahrain adalah kawan dan sekutu Amerika sejak lama,” kata Hillary Clinton.

“Kami telah meminta kepada pemerintah Bahrain untuk menahan diri dan menjaga komitmenya untuk bertanggung jawab terhadap penggunaan tindakan kekerasan yang berlebihan.”

Kekhawatiran terjadinya kekerasan susulan bagi keluarga korban dan kelompok penentang pemerintah memang beralasan.

Pasalnya prosesi pemakaman yang berlangsung hari ini (18/2) bersamaan dengan aksi demonstrasi yang akan dilakukan oleh kelompok pro pemerintah di Manama.

Dalam aksi sebelumnya para pengunjuk rasa di Bahrain menuntut reformasi politik yang lebih besar selain adanya keadilan sosial dan ekonomi.

Golongan oposisi Syiah menuntut agar reformasi terjadi di tubuh pemerintahan Bahrain. Mereka mendesak agar kabinet dan bahkan perdana menteri ditunjuk dari hasil pemilu.

Selama ini memang mayoritas anggota parlemen adalah keluarga raja.

Pengunjuk rasa juga meminta agar Raja Hamad bin Isa al-Khalifa memberhentikan pamannya, Syekh Khalifa Bin Salman Al Khalifa yang saat ini menjadi perdana menteri dan telah berkuasa sejak tahun 1971. (BBC/ANP/AFP/RNW).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *