Friday, July 20, 2018
Beranda > Konsultasi Islam > Hukum Bersentuhan dengan Daging Babi Ketika Puasa

Hukum Bersentuhan dengan Daging Babi Ketika Puasa

hukum-bersentuhan-dengan-daging-babi-ketika-berpuasaTANYA: Saya seorang yang bekerja di Hong Kong juga ikut menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan Shalat Fardhu. Tapi, saya masih memasak memegang babi buat menu makan Si Bos (majikan). Sedang saya tahu memegang babi hukumnya haram. Bagaimana hukumnya puasa dan shalat saya, karena keadaan di sini? Walaupun begitu saya tetap menjalankan kewajibanku sebagai hamba yang lemah ini. Terima kasih. (BMI Hong Kong).

JAWAB: Mayoritas (jumhur) ulama sepakat bahwa babi itu bukan hanya haram dimakan, tetapi juga semua tubuhnya najis ketika masih hidup, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Munzir. Bagian tubuh babi yang sudah mati juga merupakan najis, bahkan mazhab As Syafi’i menggolongkan sebagai najis berat dan harus dibersihkan dengan mencuci sebanyak 7 (tujuh) kali dengan salah satunya menggunakan tanah.

Untuk itu ada beberapa saran yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, karena daging babi merupakan najis, maka pastikan agar sahabat segera membersihkan diri sesuai dengan cara-cara yang ditetapkan.

Kedua, untuk keperluan konsumsi setiap hari, usahakan untuk memiliki peralatan masak secara khusus yang berbeda dengan peralatan masak yang biasa digunakan oleh majikan. Jika karena terpaksa sahabat menggunakan peralatan makan milik majikan, maka pastikan bahwa peralatan makan tersebut sudah dicuci secara bersih hingga tidak tersisa lagi bau, warna, dan rasanya.

Ketiga, sedapat mungkin sambil mencari majikan yang muslim atau setidaknya majikan non-muslim yang tidak mengonsumsi daging babi sehingga tidak mengalami kerepotan terkait dengan daging babi.

Sahabat Abu Tsalabah Al-Khusyani r.a. bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, kami tinggal di daerah yang berpenduduk mayoritas ahli kitab. Bolehkah kami makan dengan menggunakan wadah mereka?” Beliau Saw menjawab, “Jika kalian memiliki wadah yang lain, jangan makan dengan wadah mereka. Namun, jika kalian tidak memiliki wadah yang lain, cucilah wadah mereka dan makanlah dengan menggunakan wadah tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menyangkut puasa dan shalat, tentu saja tetap sah selama memenuhi syarat dan rukunnya.

Syarat puasa adalah: (1) muslim/muslimah, (2) baligh, (3) berakal (tidak hilang ingatan), (4) kuat atau mampu menjalankan (kalau tidak kuat atau tidak mampu harus diganti pada kesempatan lain), dan (5) mengetahui awal bulan Ramadan. Adapun rukun puasa adalah: (1) niat dan (2) menahan diri dari segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa.

Syarat shalat adalah (1) muslim/muslimah, (2) berakal, (3) tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), (4) menghilangkan hadas, (5) menghilangkan najis, (6) menutup aurat, (7) masuknya waktu, dan (8) menghadap kiblat. Sedangkan rukun salat adalah: (1) niat, (2) berdiri bagi yang mampu, (3) takbiiratul-Ihraam, (4) membaca Al Fatihah, (5) ruku’, (6) i’tidal setelah ruku’, (7) sujud dengan anggota tubuh yang tujuh, (8) duduk di antara dua sujud, (9) duduk tasyahud akhir, (10) membaca tasyahud akhir, dan (11) membaca shalawat Nabi SAW, (12) salam, dan (13) thuma’ninah (tenang dan tertib) dalam semua amalan.  Wallahu a’lam bish-shawab. (dr muhammad arif/merdeka.com).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *