Thursday, August 16, 2018
Beranda > Featured > Indonesia Siapkan Evakuasi WNI Mesir

Indonesia Siapkan Evakuasi WNI Mesir

Pemerintah Indonesia menyiapkan evakuasi atas warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Mesir, menyusul situasi Mesir yang tidak kunjung membaik. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan terus memantau kondisi WNI di Mesir dan memfasilitasi kebutuhan logistik.

Direktur Diplomasi Publik Kemlu Kusuma Habir mengatakan KBRI di Kairo, Mesir, sudah membentuk jaringan komunikasi dengan 20 posko masyarakat atau mahasiswa, yang berpusat di tiga titik yaitu KBRI, sekolah Indonesia, dan kantor pelayanan konsuler.

“Menghadapi kondisi di Mesir yang tidak membaik dari segi politik dan keamanan, atas arahan langsung bapak presiden, rencana evakuasi WNI segera diaktifkan. Menlu RI terus berkomunikasi dengan Duta Besar RI di Kairo perihal situasi polkam dan kondisi WNI di mesir,” kata Kusuma lewat pesan pendek kepada SP, Senin (31/1).

Menurut Kusuma, total WNI di Mesir sebanyak 6.149 terdiri dari 4.297 mahasiswa, 1.002 TKI, selebihnya WNI yang berdomisili di Mesir termasuk staf KBRI dan keluarga. Sedangkan, wisatawan Indonesia yang sedang berada di Mesir berjumlah delapan orang. KBRI telah memfasilitasi 370 orang wisatawan lainnya kembali ke Indonesia sesuai jadwal.

Sebelumnya, pemerintah sejumlah negara telah terlebih dahulu melakukan evakuasi atas warga negaranya di Mesir. Pemerintah AS telah menyediakan pesawat carter untuk mengevakuasi ribuan warganya. Pada Minggu (30/1), Menteri Luar Negeri Kanada Lawrence Cannon menyatakan pemerintahnya telah menerbangkan pesawat untuk evakuasi.

Hal serupa juga dilakukan oleh Irak, Turki, India, Yunani, Arab Saudi, Inggris, Prancis, Tiongkok, Australia, dan negara kecil pecahan Uni Soviet yakni Azerbaijan. Sampai Minggu, pemerintah Indonesia baru menyerukan imbauan agar WNI keluar dari Mesir. [C-5]

Kementerian Luar Negeri mencatat lebih dari 6000 WNI berada di Mesir; sebagian besar mahasiswa dan TKI. Mereka tersebar di sejumlah kota, di antaranya di Kairo dan  Alexandria.

“Sebagian besar dari mereka adalah pelajar, 4.000 lebih. Kemudian ada sekitar 1.000 tenaga kerja, dan lainnya adalah staf kedutaan, ekspatriat dan lain-lain.”

Unjuk rasa di Mesir sudah berlangsung sejak Selasa (1/25) dan hingga Minggu (1/30) telah tercatat lebih dari 100 tewas.

Pihak berwenang di Mesir memutuskan seluruh akses komunikasi, serta memberlakukan jam malam sejak Jumat. Warga dilarang berkumpul mulai pukul enam sore hingga pukul tujuh pagi keesokan harinya.

Massa mengabaikan larangan ini dengan tetap melakukan aksi protes dan melawan aparat keamanan usai shalat Maghrib. Kantor pusat Partai Demokratik Nasional (NDP), partai yang berkuasa di Mesir, bahkan ikut dibakar massa.

Kerusuhan massa di Mesir tidak terelakkan akibat kekecewaan rakyat atas ketidakmampuan pemerintah mengatasi krisis ekonomi. Rakyat Mesir juga marah dengan kesewenang-wenangan pemerintahan Presiden Hosni Mubarak, yang masih menerapkan undang-undang darurat sejak ia berkuasa pada tahun 1981. (VOA News/Suara Pembaruan).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *