Friday, October 19, 2018
Beranda > Indonesia > Kabar Terakhir Lima TKW Saudi yang Terancam Pancung

Kabar Terakhir Lima TKW Saudi yang Terancam Pancung

Lima tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia telah dijatuhi hukuman mati atau qhisas oleh pengadilan Arab Saudi. Putusan itu final, eksekusi pancung segera bisa dilakukan.

Meski demikian, masih ada celah untuk membebaskan mereka dari algojo pancung: permaafan dari keluarga korban dan pengampunan dari Raja Arab. Celah inilah yang sedang diusahakan oleh pemerintah.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Tatang Boedi Utama Razak, mengatakan, berbagai upaya sedang dilakukan, mulai dari perwakilan, Duta Besar, Satgas Perlindungan TKI, Menteri Luar Negeri, hingga Presiden.

“Memang ada TKW yang sudah berketetapan hukum tetap. Kami melihat proses hukum final, satu-satunya cara adalah upaya mendapatkan permaafan,” kata dia saat dihubungi VIVAnews.com, Kamis (27/10).

Tatang yang kini berada di Arab Saudi mengatakan, pemerintah dengan segala daya dan upaya menjalin komunikasi dengan segala pihak, termasuk keluarga korban dan tokoh informal, untuk mendapatkan pemaafan.

Mantan Kuasa Usaha KBRI Kuala Lumpur itu menjelaskan, satu per satu perkembangan proses pembebasan lima TKW tersebut.

Yang pertama, Siti Zaenab. TKW asal Bangkalam Madura itu diperjuangkan kebebasannya oleh tiga presiden: Gus Dur, Megawati, dan SBY. “Siti Zaenab masih menunggu permaafan dari ahli waris yang baru akil balig tiga tahun lagi. Sebelumnya Gus Dur, Mega, SBY memperjuangkan melalui raja, tapi Raja Arab tak bisa memaafkan, kecuali keluarga,” kata Tatang.

Saat ini, dia menambahkan, pemerintah berusaha melakukan pendekatan ke keluarga korban. Kontak komunikasi dengan keluarga Siti Zaenab juga terus dilakukan.

Dua kasus TKW lainnya, Aminah dan Darnawati, yang terbukti memutilasi korbannya, cukup unik. “Sebenarnya pemaafan dari ahli waris sudah, tapi di sinilah hukum, walaupun sudah dimaafkan keluarga, tapi mahkamah melihat tindakannya, memutilasi, berat. Mereka akhirnya dijatuhi hukuman mati lagi,” kata Tatang.

Ini membuktikan, bukan berarti saat mendapatkan permaafan dari keluarga korban mereka lantas bebas. Dalam hal dua TKW bebas qhisas tapi terancam hukuman mati, lanjut Tatang, yang bisa diupayakan adalah pengampunan dari Raja Arab. “Presiden sudah memohon pada raja. Tapi, ini juga bukan hal mudah bagi raja, karena perbuatannya (dinilai kejam, red). Kami berharap pada kebaikan raja,” kata dia.

TKW yang keempat, Fatinah, sebenarnya tinggal menunggu pelaksanaan eksekusi. “Namun, dengan berbagai upaya dari pemerintah, ada penangguhan untuk pemaafan,” kata Tatang.

Waktunya cukup luang, sehingga upaya mendapat maaf tersebut bisa diupayakan. “Namun, proses pemaafan tak mudah, selain ahli waris, ada kabilah-kabilah (klan) yang juga berpengaruh,” tambah dia.

TKW asal Majalengka, Tuti Tursilawati, terbukti bersalah membunuh majikan, lalu lari membawa harta milik korban. “Sudah ada keinginan keluarga agar dia segera dipancung. Tapi masih ada kesempatan mendapatkan maaf. Ini tidak mudah, tapi terus diupayakan,” tambah Tatang.

Dia menambahkan, seperti halnya hukum di Indonesia, Arab Saudi juga punya sistem hukum sendiri yang harus dihormati. “Kami sudah maksimal mungkin berusaha, namun harus dipahami, ini menyangkut fakta hukum di negara orang,” kata dia.

Hakim di negeri Arab juga tak sembarangan memutus. “Hakim berat memutus qhisas, sebab pertanggungjawabannya berat.” (eh)• VIVAnews

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *