Tuesday, October 16, 2018
Beranda > Dunia Islam > Kesakralan Kota Suci Mekah Memudar

Kesakralan Kota Suci Mekah Memudar

Lusinan menara pencakar langit berkilauan di atas tempat suci Islam, Ka’bah, menyediakan kamar hotel dengan pelayan 24-jam dan kamar mandi marmer mewah. Di bawahnya, kerumunan umat Islam melakukan ibadah haji. Banyak dari mereka miskin, bahkan harus tidur di jalanan.
Pihak berwenang Arab Saudi mengubah penampilan Mekah, kota paling suci bagi umat Islam, dan bahkan berencana mengubahnya lebih dramatis dalam tahun-tahun mendatang.

Tetapi perubahan itu hanya dinikmati kalangan elite (kaya) kaum Muslim. Banyak kritik mengatakan, perubahan yang seharusnya membawa umat Islam lebih dekat kepada Allah, justru telah berubah menjadi “ekspedisi kemewahan” bagi beberapa orang.

Samir Barqah, seorang pemandu tur kota bersejarah di Mekah, mengatakan kehadiran menara-menara mewah berkilauan itu mengubah Mekah menjadi layaknya kota Manhattan (Amerika).

“Pembangunan kota menghapus semua karakter Mekah,” kata Barqah kepada kantor berita The Associated Press. “Kini Mekah tidak lagi seperti yang dikenal para orangtua dan kakek kita…Mekah kini menjadi lapisan lembaran kaca dan semen.”

Gedung pencakar langit, menara-menara bangunan kaca yang menjulang tinggi, dan pusat-pusat perbelanjaan mewah, tumbuh di sekitar Masjid Haram tempat kiblat umat Islam seluruh dunia, Ka’bah, berada.

Hampir 3 juta Muslim beribadah haji tahun ini, tidak termasuk ratusan ribu jamaah haji “tidak resmi” yang menyelinap ke Mekah tanpa seizin pemerintah Saudi.

Pemerintah Arab Saudi siap meluncurkan sebuah proyek besar untuk merombak Mekah dan sekitarnya selama 10 tahun ke depan. Tujuannya agar mampu menampung jumlah jamaah haji lebih banyak –lima kali lipat dari jumlah yang sekarang.

“Jangan terkejut oleh apa pun yang akan terjadi pada dekade berikutnya,” kata Gubernur Provinsi Mekah, Pangeran Khaled Al-Faisal, kepada wartawan. Ia menjanjikan teknologi paling canggih untuk “membuat hal-hal yang nyaman bagi para peziarah.”

Rencana tersebut mencakup menghapus bangunan kumuh dan tua di sekitar Mekah dan menggantinya dengan generasi baru perumahan dan hotel. “Kami juga berencana membangun rumah sakit baru dan meningkatkan infrastruktur transportasi dan komunikasi,” kata Wakil Gubernur, Abdul al-Khedheiri.

“Kami akan membangun penginapan dengan keragaman tingkat, dari hotel bintang satu sampai bintang tujuh,” katanya.

Menara-menara yang berisi hotel dan mal, sangat kontras dengan kondisi bagi para peziarah lainnya. Banyak jamaah haji yang berjejal tinggal di rumah kontrakan, hingga 20 orang per ruangan.

Muncul kekhawatiran, pembangunan besar-besaran itu hanya akan memanjakan jamaah haji kaya-raya dalam sebuah ziarah yang seharusnya menjadi waktu bagi umat Islam untuk tampil sama rendah di hadapan Allah.

Beberapa menara mewah menawarkan kamar dengan pemandangan Ka’bah. Selain itu, kepala pelayan menawarkan kamar 24-jam dan “hajj kit” berupa busana untuk digunakan dalam ritual, dengan harga mulai 6.000 hingga 1.600 dolar AS per malam. Pihak hotel mengatakan seluruh kamar penuh tahun ini.

Fasilitas megah dan mewah di kota Mekah telah mengurangi kesakralan kota suci itu. Banyak jamaah haji kaya-raya “tergoda” untuk lebih memilih menikmati kemewahan itu, ketimbang khusyu’ beribadah, bersimpuh di hadapan Allah SWT, langsung di “rumahnya”, Ka’bah. Tidak sedikit pula yang lebih khusyu’ shopping, wisata layaknya turis, dan menikmati fasilitas mewah hotel, ketimbang khusyu’ mengejar haji mabrur. (Mel/AP/ddhongkong.org).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *