Friday, October 19, 2018
Beranda > Opini dan Kajian > Khotbah Idul Fitri 1431 H : Mempertahankan Jiwa Tauhid

Khotbah Idul Fitri 1431 H : Mempertahankan Jiwa Tauhid

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Allahu Akbar 3X

Lailaha illallahu wallahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahilhamd.

Alhamdulillah, hari ini kita kembali merayakan Idul Fitri. Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, hari ini adalah hari yang menandakan berakhirnya bulan Ramadhan, berakhirnya hari-hari penuh berkah, berakhirnya tarbiyah Rabbaniyah kepada kita.

Sebulan lamanya kita melakukan tarbiyah Ramadhan dengan  menunaikan puasa, shalat tarawih, tilawah,  dzikir, doa, mengeluarkan zakat, infak, dan shadaqah. Kita sangat berharap, hari ini kita bisa menjadi orang yang bertaqwa, orang yang dijanjikan oleh Allah mendapat kemenangan.  Menang atas binalnya hawa nafsu kita. Menang atas lemahnya godaan setan. Menang atas semua kegelisahan yang mempermainkan perasaan kita. Menang atas ketidakberdayaan dan kemalasan yang senantiasa ada dalam diri kita.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Pada setiap momentum Idul Fitri, setelah kita, umat Islam, berpuasa selama sebulan penuh dalam bulan Ramadhan, dikatakan bahwa kita kembali kepada fitrah.

Ada dua pengertian tentang Idul Fitri:

Pertama, secara bahasa dan syar’i, arti sebenarnya adalah “hari raya berbuka puasa”, yakni kita kembali berbuka, tidak puasa lagi, setelah selama sebulan kita berpuasa. Secara bahasa, “id” artinya kembali, dan “fithru” atau “ifthar” artinya berbuka, yakni berbuka puasa jika terkait dengan puasa.

Kedua, Idul Fitri artinya kembali bersih dan suci dari noda dan dosa, laksana bayi yang baru lahir, sebagaimana diisyaratkan hadits Nabi:

Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang” (HR. Bukhary-Muslim).

Kesucian kita kian mantap dengan adanya “budaya” silaturahmi, halal bihalal, saling memaafkan antar-sesama, sebagai sarana pembersihan dosa antarsesama manusia.

Kita juga mebudayakan saling mengucap doa, utamanya “Allahumaj’alna minal ‘adin wal fazin” yang kerap disingkat menjadi “Minal ‘Aidin wal Faizin”. Artinya, semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang kembali dan mendapatkan kemenangan”. Juga doa “Taqobbalallohu minna waminkum”, yang artinya semoga Allah menerima amal ibadah kita.

Allahu Akbar 3X

Lailaha illallahu wallahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahilhamd.

Kembali kepada fitrah bisa kita maknai sebagai “kembali kepada jiwa tauhid”. Setidaknya, pasca Ramadhan ini, kita memiliki semangat untuk kembali kepada jiwa tauhid kita.

Fitrah manusia, atau pembawaan manusia sejak lahir, adalah berjiwa monoteisme atau tauhid, yakni mengesakan atau hanya menuhankan Allah SWT.

Sebelum diciptakan dalam wujud sempurna manusia yang terdiri dari ruhani dan jasmani, seluruh ruh manusia dikumpulkan di suatu tempat oleh Allah SWT –dikenal dengan “Alam Arwah”. Pada saat itu Allah SWT bertanya, sekaligus “membaiat” mereka untuk menuhankan-Nya, alias mengakui Allah SWT sebagai Tuhan mereka. Mereka pun –termasuk kita tentunya– pada saat itu bersedia “dibaiat” sebagai bentuk “perjanjian” dengan-Nya.

Kisah tersebut diabadikan dalam QS. Al-A’raf:172-173, yang mengisyaratkan bahwa setiap manusia pada asalnya adalah mukmin, beriman kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah (tauhid), ataupun “Muslim” dalam pengertian berpasrah diri sebagai ‘abid (hamba) Allah SWT semata.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’. Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (badi Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Q.S. 7:172).

Akidah tauhid itulah fitrah manusia. Allah SWT menciptakan manusia dengan kodrat yang hanief, memihak kepada kebenaran, sebagaimana juga Islam diciptakan atas kodrat yang hanief atau sesuai dengan fitrah manusia, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengimani dan mengamalkan syariat Islam.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama yang hanief (Islam). Itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah (Islam) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. 30:30).

Nabi Muhammad Saw menegaskan, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci, beriman, bertauhid), kedua orangtuanyalah –atau lingkungannnya– yang dapat menjadikannnya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi).

Allahu Akbar 3X

Lailaha illallahu wallahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahilhamd.

Tauhid menuntun manusia untuk tetap menempatkan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan. Kepada-Nyalah ia mengabdi. Segala hukum-Nya ditaati. Larangan-Nya dijauhi dan perintah-Nya dijalankan.

Kehidupan dunia ini merupakan cobaan. Cobaan dimaksud utamanya menguji jiwa tauhid manusia tadi. Apakah ia kukuh memegang prinsip tauhidnya atau tidak. Makanya, di dunia ini jiwa manusia dilengkapi dengan jasmani. Jasmani itulah yang dapat memalingkan manusia terhadap ketauhidannya.

Jasmani merasakan adanya berbagai kebutuhan untuk dipenuhi agar bertahan hidup. Ketika memenuhi kebutuhan itulah, manusia banyak yang melalaikan ketauhidannya. Belum lagi jika muncul ambisi dalam dirinya untuk kaya dan bertahta. Untuk mencapai kaya dan tahta itu, banyak jalan yang dapat ditempuh. Ragam jalan ini pun termasuk cobaan dari Allah SWT. Jika ia konsisten dengan jalan halal, sebagaimana diinformasikan lewat ajaran Islam, berarti ia kukuh dengan jiwa tauhidnya.

Tauhid menuntun manusia untuk tetap menempatkan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan. Kepada-Nyalah ia mengabdi. Segala hukum-Nya ditaati. Larangan-Nya dijauhi dan perintah-Nya dijalankan. Lawan tauhid adalah syirik, menyekutukan Allah SWT, meyakini Tuhan lebih dari satu, atau meyakini ada sesuatu yang setara kekuatan dan kharismanya dengan Tuhan. Dan dosa syirik ini tidak diampuni-Nya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni perbuatan syirik, tetapi Dia mengampuni selain dari itu…” (Q.S. 4:48).

Jiwa tauhid akan melahirkan amal perbuatan yang tertuju semata-mata karena Allah SWT (ikhlas). Artinya, mencari keridhaan-Nya semata. Dengan demikian, hukum Allah senantiasa menjadi acuan dalam perilakunya. Bagi Muslim, hal ini tercermin dalam bacaan doa iftitah shalat:

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah demi Allah Pencipta alam semesta” (inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin).

Jiwa tauhid juga tercermin dalam bacaan QS. al-Fatihah: iyaka na’budu wa iyaka nasta’in, hanya kepada-Mu (wahai Allah) kami menyembah dan hanya kepada-Mu juga kami memohon pertolongan.

Maka, jika kita menyembah selain Allah, meminta kepada selain Allah, maka kita mencederai tauhid kita. Kita melakukan syirik, menyekutukan Allah, dan itu dosa terbesar yang tidak akan diampuni di akhirat.

Kita berharap, Ramadhan telah memberi kita pelatihan, agar kita mampu menjaga jiwa tauhid kita. Juga agar kita siap, bukan saja mengimani Islam, tapi juga mendalami, memahami, mengamalkan, mendakwahkan, dan membela Islam semampu kita.

Mari pertahankan semangat Ramadhan, bahkan kita tingkatkan, pada 11 bulan ke depan, hingga bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Semangat Ramadhan yang dimaksud, adalah semangat mendalami dan mengamalkan Islam, juga semangat mendekatkan diri kepada Allah, semangat menjalin hubungan baik dengan sesama, dan amal saleh lainnya. Insya Allah…

Allahu Akbar 3X

Lailaha ilallahu wallahu akbar Allahu Akbar Walillahilhamdu

Marilah kita tutup khutbah singkat ini dengan doa…
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb. (ASM. Romli/ddhongkong.org)

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *