Friday, July 20, 2018
Beranda > Ragam > Kita Membutuhkan Sosok Umair Bin Saad

Kita Membutuhkan Sosok Umair Bin Saad

Kian banyak kita mendapati kisah teladan para sahabat, kian rindulah kita pada kehadiran sosok pejuang Islam dan pemimpin yang ikhlas, amanah, dan bersahaja.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab, penduduk Hims sangat kritis terhadap para pembesar mereka sehingga sering mengadu kepada Khalifah Umar.Setiap pembesar yang baru datang memerintah ada saja celanya bagi mereka. Dicatatnya segala kesalahan pembesar itu lalu dilaporkannya kepada khalifah dan minta diganti dengan yang lebih baik. Penduduk Hims tidak ingin diperintah oleh ‘politisi bermasalah’. Karena itu Khalifah Umar mencari seorang yang tidak bercacat dan namanya belum pernah rusak untuk menjadi gubernur di sana.

Lalu beliau menyebarkan pembantu-pembantunya untuk mencari orang yang paling tepat. Akhirnya, tidak diperolehnya orang yang lebih baik selain Umair bin Saad. Ketika itu Umair sedang bertugas memimpin pasukan perang kaum Muslimin di wilayah Syam. Dalam tugas itu dia berhasil memimpin pasukannya untuk membebaskan beberapa kota, menundukkan beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang dilaluinya. Pada saat seperti itulah Umair dipanggil pulang ke Madinah untuk memangku jabatan Gubernur Hims.

Umair menerima tugas barunya dengan hati enggan karena baginya tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah. Setibanya di Hims ia mengajak penduduk berkumpul di masjid untuk shalat berjamaah. Selesai shalat dia menyampaikan pidato. ”Hai manusia, sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang kokoh dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan dan pintunya ialah kebenaran. Apabila benteng itu ambruk dan pintunya roboh, pertahanan agama akan sirna.

Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan yang hak.” Umair bin Saad bertugas sebagai Gubernur Hims hanya setahun. Selama itu dia tidak menulis surat sepucuk pun kepada Khalifah Umar di Madinah. Bahkan, ia pun tidak menyetorkan pajak satu dinar atau satu dirham pun ke Baitul Mal di Madinah. Karena itu timbul kecurigaan di hati Khalifah Umar.

Dia sangat khawatir ada masalah dengan pemerintahan Umair. Lalu, ia memerintahkan sekretaris negara untuk menulis surat kepada Gubernur Umair. ”Katakan kepadanya, bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkanlah Hims dan segeralah menghadap Amirul Mukminin. Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin.” Selesai surat tersebut dibaca oleh Gubernur Umair, maka diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk persediaan air wudhu dalam perjalanan. Lalu, dia berangkat meninggalkan Hims.

Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki. Ketika hampir tiba di Madinah, keadaannya pucat (karena kurang makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena perjalanan yang begitu jauh. Khalifah Umar yang terkejut melihat keadaan Umair dan mempertanyakan keadaannya. Jawab Umair, ”Tidak kurang suatu apa pun. Saya sehat, alhamdulillah, saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya.” Khalifah Umar melanjutkan pertanyaannya, ”Dunia manakah yang Anda bawa?

” Umair menjawab, ”Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudhu, untuk membasahi kepala, dan untuk minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang lain tidak saya perlukan.” Khalifah Umar tak menghentikan pertanyaannya. Gubernur Umair pun selalu memberi jawaban. ”Apakah Anda datang berjalan kaki?” ”Betul, ya Amirul Mukminin” ”Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?”

”Tidak, mereka tidak memberi saya dan saya tidak pula memintanya dari mereka.” ”Mana setoran pajak yang Anda bawa untuk Baitul Mal?” ”Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Mal” ”Mengapa?” ”Setibanya di Hims, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya, saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak.”

Mendengar penjelasan demikian, Khalifah Umar lantas memerintahkan untuk memperpanjang masa jabatan Umair sebagai Gubernur Hims. Namun, Umair menolaknya. ”Maaf Khalifah, saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai saat ini saya tidak hendak bekerja lagi untuk Anda atau untuk orang lain sesudah Anda, wahai Amirul Mukminin.” Umair pun minta izin untuk pergi ke sebuah dusun di pinggiran kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Di sana ia hidup sangat sederhana dan bahagia hingga ajal menjemputnya.

Ketika Khalifah Umar mendengar kematian Umair, ia berduka sangat dalam. Ia berkata, ”Saya membutuhkan orang-orang seperti Umair bin Saad untuk membantu saya mengelola masyarakat kaum muslimin.” (Mel).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *