Saturday, June 23, 2018
Beranda > Opini dan Kajian > Manisnya iman

Manisnya iman

Anas ibn Malik meriwayatkan bahwasanya Rasulullah S.A.W bersabda :

“Ada tiga hal yang apabila ketiga-tiganya ada dalam diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dibanding yang lainnya, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak suka kembali kafir sebagaimana tidak suka kalau dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari 16,21, dab 6790. Dan muslim 128)

Menurut Ibnu Abi Jamrah, Bukhari meletakkan hadis ini dalam bab “Manisnya Iman”. Sebab Allah menggambarkan iman atau kalimat tauhid laksana pohon yang baik. Pohon yang baik ini adalah La ilaha illallah. Cabangnya adalah rukun islam, dahannya ibadah fardhu dan sunah, daunnya adalah ketaatan dan buahnya adalah amal baik.

Makna sabdanya yang berbunyi, “Ada tiga hal , yang apabila ketiga-tiganya terhimpun dalam diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman, ” artinya adalah, dia akan mencicipi, merasakan, dan hidup dalam keindahan, rasa lapang dan kegembiraan.

Mengapa Rasulullah S.A.W bersabda “Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dibanding yang lain selain keduanya “? Mengapa Rasulullah menyandingkan dirinya dengan Allah dalam satu kata ganti, itu “… yang lain selain keduanya”. Padahal, dalam satu kesempatan Rasulullah S.A.W mencela seorang khatib yang dalam ceramahnya dia berkata, “Orang yang menaati Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapatkan petunjuk, sedangkan orang yang mendurhakai keduanya, berarti dia membahayakan dirinya sendiri.” Mendengar kata-kata ini, Rasulullah S.A.W bersabda, “Duduk ! kamu adalah khatib yang paling jelek. ” (diriwatkan HR.Muslim 1960)

Penyebabnya adalah, khatib tersebut berkata, “Sedangkan orang yang mendurhakai keduanya.” Dengan demikian, dia menyandingkan kata ganti Allah dan kata ganti Rasulullah S.A.W dalam satu kata. Letak permasalahannya adalah, Rasulullah S.A.W lebih mengetahui kedudukan Allah, berikut penghormatan dan pengagungan yang layak terhadap-Nya. Dengan demikian, dia tidak mengurangi hak Allah, atau berusaha mengagungkan dirinya setinggi mungkin hingga setara dengan Allah. Suatu perbuatan yang tidak mungkin dilakukan Rasulullah S.A.W Adapun celaan beliau terhadap khatib di atas, lebih dikarenakan perkataan khatib tersebut potensial mengandung penyetaraan antara Allah dan Rasulullah S.A.W Sebab khatib berikut orang-orang Arab yang lain, tidak tahu makna penggabungan dua kata tersebut.

Ada juga yang mengatakan bahwa Rasulullah S.A.W bersabda demikian, karena beliau hendak meringkas hadis tersebut agar lebih mudah dipahami. Sementara di sisi lain, khatib tersebut hanya menyampaikan khutbah. Dalam menyampaikan Khutbah, sebaiknya diuraikan secara panjang lebar agar dipahami dengan jelas.

*Sumber : Yakinlah Dosa Pasti Diampuni – Manisnya iman – Dr. ‘Aidh al-Qarni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *