Sunday, November 19, 2017
Beranda > Dunia Islam > Masjid Terbesar di Prancis Batal Dibangun

Masjid Terbesar di Prancis Batal Dibangun

Masjid terbesar di Prancis batal dibangun. Izin pendirian masjid yang rencananya dibangun di Kota Marseille itu dibatalkan Pengadilan Prancis, Kamis (27/10) karena panitia proyek dianggap gagal memenuhi persyaratan perencanaan tata kota.

Pengadilan mencatat kurangnya bahan grafis yang mencakup dampak pembangunan terhadap bangunan di sebelahnya, akses jalan, dan tanah.

Warga Prancis yang menolak pembangunan masjid menyambut gembira keputusan tersebut. “Ini puncak perjuangan panjang bagi orang-orang yang tinggal dan bekerja di sini dan mereka yang menginginkan proyek ini agar selaras dengan lingkungan ekonomi dan sosial,” kata Pierre Metras, seorang tukang daging lokal yang memimpin kampanye penolakan pembangunan masjid.

Sebelumnya, Pemimpin Komunitas Muslim Marseille sempat memuji pemerintah lokal yang bersedia memberikan izin. Ia menilai pembangunan masjid ini merupakan langkah kunci dalam usaha menjembatani dialog masyarakat Marseille dengan komunitas Muslim.

Kehadiran masjid itu juga disebut-sebut sebagai simbol potensi tempat Islam berkembang di Prancis.

Arsitek proyek, Maxime Repaux, mengaku terkejut dengan putusan pengadilan. Padahal, cetak biru pembangunan masjid telah mengakomodasi segala kemungkinan yang dapat mengganggu warga lokal.

“Saya terkejut, sebab kami telah berusaha untuk membuat parkir demikian luas, sehingga tidak ada jamaah yang terpaksa shalat di jalanan,” katanya.

Proyek pembangunan masjid mendapatkan izin pada September 2009, namun proses pembangunannya ditangguhkan akibat keluhan dari penduduk setempat. Menurut rencana, masjid ini dibuat dengan kapasitas besar sehingga dapat menampung 7.000 jamaah.

Untuk membangun masjid ini, komunitas Muslim harus mengeluarkan dana sebesar 22 juta Euro atau $ 31 juta dollar.

Menurut rencana, masjid akan dibuka tahun depan. Selain untuk shalat, masjid yang dilengkapi menara itu juga dilengkapi fasilitas sekolah, perpustakaan Al-Quran, restoran, dan ruang pertemuan.

Marsille merupakan kota dengan populasi Muslim terbesar di Eropa. Jumlah umat Islam di kota kedua terbesar setelah Paris itu diperkirakan mencapai 250.000 jiwa. Selama ini banyak Muslim yang berduyun-duyun ke rumah-rumah ibadah darurat di basement, kamar-kamar sewaan, dan garasi kumuh untuk beribadah.

Prancis merupakan negara Eropa dengan komunitas Muslim terbesar –sekitar 5-6 juta jiwa. Prancis juga menjadi negara pertama di Eropa¬† yang menerapkan larangan cadar. (Mel/AFP/Dawn.com/ddhongkong.org).

Pengadilan Perancis, Kamis (27/10) kemarin, memutuskan membatalkan izin konstruksi pembangunan Masjid di selatan Marseille. Pembatalan itu disebabkan panitia proyek dianggap gagal memenuhi persyaratan perencanaan tata kota. 

Pengadilan mencatat kurangnya bahan grafis yang mencakup dampak pembangunan terhadap bangunan di sebelahnya, akses jalan dan tanah.

“Ini adalah puncak dari perjuangan panjang bagi orang-orang yang tinggal dan bekerja di sini, dan mereka yang menginginkan proyek ini agar selaras dengan lingkungan ekonomi dan sosial,” kata Pierre Metras, seorang tukang daging lokal yang memimpin kampanye penolakan pembangunan Masjid, seperti dikutip AFP, Jumat (28/10).

Sebelumnya, Pemimpin Komunitas Muslim Marseille sempat memuji pemerintah lokal yang bersedia memberikan izin pembangunan. Komunitas menilai pembangunan Masjid ini merupakan langkah kunci dalam usaha menjembatani dialog masyarakat Marseille dengan komunitas Muslim.

Arsitek proyek, Maxime Repaux, mengatakan cukup terkejut dengan putusan pengadilan. Padahal cetak biru dari pembangunan Masjid telah mengakomodasi segala kemungkinan yang dapat mengganggu warga lokal. “Saya terkejut, sebab kami telah berusaha untuk membuat parkir demikian luas, sehingga tidak ada jamaah yang terpaksa shalat di jalanan,” kata dia.

Proyek ini mendapatkan izin pada September 2009, namun proses pembangunannya ditangguhkan akibat keluhan dari penduduk lokal. Menurut rencana, Masjid ini dibuat dengan kapasitas besar sehingga dapat menampung 7.000 jamaah. Untuk membangun Masjid ini, komunitas Muslim harus mengeluarkan dana sebesar 22 juta Euro atau $ 31 juta dollar.

Diawalnya, Masjid ini akan dibuka tahun depan. Selain untuk shalat, Masjid yang dilengkapi menara ini, juga dilengkapi fasilitas berupa sekolah, perpustakaan Alquran, restoran dan ruang pertemuan.

Marsille merupakan kota dengan populasi Muslim terbesar di Eropa, diperkirakan jumlahnya mencapai 250.000 jiwa. Melalui kota ini, Muslim Prancis bertahun-tahun berjuang untuk mengakomodasi Islam, sebagai agama resmi yang diakui Perancis.

Namun, usaha itu tampaknya tidak mudah. Pada April silam, Perancis menjadi negara pertama di Eropa  yang menerapkan larangan mengenakan niqab dan burqa.

DDHK News

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

One thought on “Masjid Terbesar di Prancis Batal Dibangun

  1. Indonesia sering jadi sorotan dunia ketika ada pembatalan /penolakan oleh penduduk setempat, ketika ada pembangunan tempat ibadah karena didirikan di tengah perkampungan muslim. dan dengan menyalahi prosedur. Anehnya kalau di negeri kita, kejadian itu dibuat berita besar dan akhirnya kita yang dituding tidak toleran, berfaham aliran keras, dsb. Sebenarnya pendirian tempat ibadah itu tentu dilihat dari kebutuhan. Lha coba dilihat, kalau ditengah perkampungan muslim, didirikan gereja sapa yang mau ibadah disitu, kecuali memang ada kemauan lain, yakni hendak ngobok-obok ketentaraman beragama masyarakat setempat. Kecuali kalau di kota besar yang memang penduduknya sangat heterogin, dan dalam keadaan masyarakat yang sangat mobil, persoalannya menjadi lain, seperti yang tertjadi di kota Marseille itu. Kota Marseille sebuah kota yang berpenduduk muslim lebih dari 30% dari penduduk non muslim. Data itu dikemukakan Alex Alexiev, pakar keamanan internasional dan dosen tamu di Institut Hudson, Washington, DC, Amerika Serikat. Saya pikir wajar kalau kota itu membutuhkan sebuah masjid yag dapat menampung jemaah muslim di sana. Jadi pembatalan pembangunan masjid di Marseille itu intoleran.
    Yang lebih aneh lagi ketika umat Islam Indonesia dituduh intoleran, lebih ciut hatinya merasa menjadi tertuduh. Padahal Rakyat Indonesia lebih toleran dalam kehidupan sehari-hari dari orang Eropah yang sok demokrasi. Umat Nasrani amat bebas menjalankan agamanya termasuk membuat menara lonceng gereja yang tingginya puluhan meter. Padahal di negara Barat pembuatan kubah dan menara masjid sangat dibatasi dengan aturan yang sangat mengikat. Ternyata kita masih punya mental inlander, mental orang terjajah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *