Sunday, September 23, 2018
Beranda > Opini dan Kajian > Menyiasati Hari Raya Imlek bagi BMI HK

Menyiasati Hari Raya Imlek bagi BMI HK

Oleh ASM. Romli & Lutfiana Wakhid

Tanggal 23 Januari 2012 adalah “hari lebaran” masyarakat Cina, yaitu berupa perayaan tahun baru Imlek (Chinese Lunar New Year’s Day). Tahun Baru Imlek merupakan perayaan penting bagi orang Tionghoa.

Imlek (artinya: kalender bulan) atau Kalender Tionghoa adalah kalender lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari. Kalender Tionghoa sekarang masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau pembukaan usaha. (Wikipedia).

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama  di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúx? yang berarti “malam pergantian tahun”. (Wikipedia).

Hari Raya Imlek ini tidak hanya dinanti oleh warga Hong Kong, terutama anak-anak kecil, akan tetapi juga dinanti oleh sebagian kalangan BMI HK demi mendapatkan Angpao merah yang sering disebut lesi.

Suasana Imlek di Hong Kong sama seperti hari raya Idul Fitri di Indonesia –banyak makanan atau kue, permen, coklat, dan tak ketinggalan kwaci merah yang sudah menjadi hidangan wajib setiap rumah yang ditempatkan di toples kecil.

Tepat hari raya Imlek semua orang berpakaian baru dan rapi. Anggota keluarga saling memberi ucapan selamat. Yang muda memberi ucapan selamat kepada yang lebih tua. “Kung Hei Fat Choi” (Selamat Hari Raya Imlek). Juga berdatangan sanak saudara bertamu yang biasa disebut “Pa Lin”(khusus bertamu saat lebaran imlek).

Selain ucapan “Kung Hei Fat Choi”, masinh banyak lagi ucapan khas Imlek lainnya, seperti “San Dai Kin Hong” (Badan Sehat Selalu), “Jong Meng Pak Soi” (Panjang Umur Sampai 100 Tahun), dan “Man Shi Sing Yi” (apa yang menjadi harapan kita terkabul).

Biasanya, orang tua (nenek/kakek) dan yang sudah menikah sudah menjadi tradisi (wajib) mengeluarkan atau membagi angpao merah (lesi) kepada orang yang belum menikah dan anak-anak, termasuk berbagi lesi kepada para kung yan (pekerja), termasuk BMI HK. Bagi yang belum menikah dan anak-anak dengan senang dan gembira menerima angpao merah yang hanya diterima pada waktu lebaran China dan ulang tahun.

Selain itu, ciri khas Imlek adalah ornamen-ornamen berwarna merah, kue keranjang, angpao, lentera, petasan/mercon, dan barongsai.

Makna simbolis dari warna merah yaitu kebahagiaan dan semangat hidup. Simbol ikan, lambang kelimpahan berkat kasih yang menghidupkan, kwaci merah diartikan “banyak uang”.

Hukum Orang Islam Merayakan Imlek

Dalam pandangan Islam, Tahun Baru Imlek mengundang kontroversi (pro dan kontra). Yang pro menyatakan, Imlek hanyalah bagian tradisi budaya leluhur China. Karenanya, kalangan Muslim Tionghoa di Indonesia pun banyak yang merayakannya, namun tanpa nuansa ritual agama Kong Hu Cu. Bahkan, Muslim Tionghoa di Yogyakarta pernah merayakan Imlek di Masjid Syuhada atas izin MUI setempat, setelah diperlihatkan sejumlah data dan fakta bahwa perayaan Imlek tidak terkait agama tertentu (Khong Hu Cu).

Versi tentang sejarah Imlek pun ada beberapa versi, tapi yang paling umum lebih menitikberatkan bahwa Imlek adalah tradisi budaya China. Konon warga Tionghoa sudah merayakan Imlek secara turun temurun, sejak ribuan tahun lalu. Dimulai sejak Dinasti Huang Ti. Imlek pun sebagai perayaan para petani pada musim semi.

Mengacu dari sejarah tersebut, Imlek bukanlah sebagai perayaan agama. Karenanya, banyak Muslim Tionghoa di Indonesia juga merayakannya, namun tidak bernuansa ritual agama Kong Hu Cu.

Yang kontra menyatakan, Imlek adalah bagian integral dari ajaran agama Kong Hu Cu. Versi yang menyebut Imlek adalah perayaan Kong Hu Cu, salah satunya mengacu pada buku berjudul Mengenal Hari Raya Konfusiani (Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003) karya Hendrik Agus Winarso.

Dalam buku tersebut Hendrik menyatakan, Imlek adalah bagian dari ajaran Kong Hu Cu. Imlek disebut juga sebagai hari permulaan tahun [Liep Chun] yang dijadikan sebagai Hari Agung untuk bersembahyang.

Penulis buku tersebut lalu menyimpulkan, Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu, dengan menegaskan,”Dengan demikian, menyambut Tahun Baru bagi umat Khonghucu Indonesia mengandung arti ketakwaan dan keimanan.” (hlm. 61).

Jika mengacu pada versi ini, maka jelas Islam melarang umatnya ikut merayakan Imlek yang nota bene hari raya umat agama lain (Kong Hu Cu). Kaum Muslim hanya harus menghormati mereka yang merayakannya sebagai bentuk toleransi beragama.

Sikap BMI HK

Bagaimana dengan para BMI HK yang beragama Islam ketika majikan merayakan Imlek? Sikap terbaik bagi BMI HK yang beragama Islam adalah berpegang pada versi, bahwa Imlek adalah tradisi orang China/Tionghoa, bukan bagian dari ajaran Kong Hu Cu, sebagaimana sebagian Muslim Tionghoa di Indonesia juga meyakininya demikian.

Namun, sebagai pemeluk Islam, BMI HK yang beragama Islam tidak boleh turut merayakan Imlek yang di dalamnya ada acara ritual keagamaan Kong Hu Cu.

Menurut General Manager Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK), Ustadz Ahmad Fauzi Qosim, perayakan Imlek itu perpaduan antara budaya dan agama.

“Kita mengikuti dengan tidak terlalu berlebihan, dalam artian gini, kalau memang dalam Imlek itu ada acara seremonial, untuk penghormatan saya kira tidak masalah, tetapi kalau kita masuk ke acara ibadahnya mereka, itu yang harus dihindari,” tegasnya.

Dikatakannya, kalau melihat kecenderungan sekarang, Imlek itu sebenarnya hari raya Cina, bukan hari raya agama, jadi kita merayakannya sesederhana mungkin sebagai orang Indonesia, sebagai penghormatan saja kepada mereka.

“Akan tetapi kalau diikuti atau dibarengi dengan acara ibadah, itu yang harus kita hindari. Kalau sebuah acara budaya seperti orang Jawa sebuah tradisi, dan tidak ada hubungannya dengan keyakinan beragama, tidak ada masalah. Batasan itu aja. Akan tetapi kalau dicampuri ritual ibadah, itu yang harus kita hindari,” jelasnya.

Kalau mereka mengucapkan “Kung Hei Fat Choi”, kata Ust. Fauzi, kita mengucapkan “semoga bahagia sehat selalu”. Begitu aja. “Tidak dikhususkan ke hari raya Imleknya, tetapi kita ucapkan ke semoga bahagia sehat selalu, ke person atau individunya.”

Dijelaskannya, Hari Raya Imlek itu sekarang menjadi tradisi orang Cina yang lintas agama, dalam arti semua pemeluk agama merayakannya. “Tetapi kalau saya ketemu orang Cina muslim di Indonesia, Imlek itu tradisi China. Mereka pun merayakan Imlek dengan lilitan tradisi Islam, tidak menyembah patung, tapi dengan rasa syurur kumpul keluarga dengan baca Al-Fatihah. Itu ‘kan perayaan sebuah komunitas, sebuah kelompok atau bangsa.”

Menurut Ustadz Muhaemin Karim (executive dakwah Islamic Union of Hong Kong), kita tetap harus bersikap menghormati perayaan tradisi mereka. “Dianjurkan untuk memberi ucapan selamat karena dengan begitu akan tercipta keharmonisan bermasyarakat,” katanya. (ASM. Romli/Lutfiana Wahid/ddhongkong.org).*

 

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *