Sunday, November 19, 2017
Beranda > Info DD > Migrant Institute Serius Berdayakan Eks BMI

Migrant Institute Serius Berdayakan Eks BMI

Salah satu program Migrant Institute (MI) adalah memberdayakan Buruh Migran Indonesia (BMI) purna atau BMI yang telah kembali ke Indonesia. Dengan program ini, MI mendorong dan memberikan pendampingan kepada BMI dalam membangun usaha mandiri di kampung halaman, sehingga mereka tidak perlu lagi kembali bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga atau pekerja informal lainnya.

Dengan memanfaatkan bekal keterampilan dan sejumlah modal yang mereka dapatkan selama bekerja di luar negeri, MI akan menjadi partner terdepan eks buruh migran dengan menyediakan pendampingan, baik dalam bentuk penyuluhan dan pembinaan, maupun tambahan modal untuk menjalankan usaha tersebut.

Pendampingan yang sudah MI lakukan misalnya kepada salah satu BMI purna eks volunteer Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) asal Subang, Siti Zahra. BMI berusia 31 tahun ini selama bekerja di Hong Kong menjadi volunteer DDHK dalam program LKT (Layanan Kesehatan Terpadu) –Unit Pelaksana Program DDHK di bidang pelayanan kesehatan.

Selama sekitar tiga tahun aktif di LKT  bersama volunteer DDHK lainnya, ia menjalankan program-program seperti membuka praktik kesehatan setiap minggu. Para volunteer juga mendapatkan berbagai training kesehatan oleh tim ahli, sehingga mereka mendapatkan bekal pengetahuan yang cukup untuk membuka praktik sendiri.

“Biasanya terapi bekam, terapi listrik, dan terapi pijat. Selain itu juga pelayanan pengukuran kadar kolesterol, gula darah, tensi darah, dan asam urat,” jelas Siti Zahra.

Siti Zahra bersama suaminya, Nur Yasin, sudah mengelola sebuah tempat praktik pelayanan kesehatan yang populer dengan istilah “Thibunnabawi”. Akan tetapi, karena mereka mendapatkan kendala dalam pengadaan alat-alat bantu kesehatan seperti alat bekam, alat pengukur tensi darah, dan peralatan lainnya yang sudah dalam kondisi tidak layak pakai, maka dari itu, Siti Zahra meminta bantuan dari MI berupa pengadaan alat-alat baru untuk menunjang layanan kesehatan tadi plus bantuan berupa sosialisasi agar masyarakat luas mengetahui layanan yang disediakan Siti Zahra bersama suaminya.

Dengan memanfaatkan ruang tamu rumahnya, Siti Zahra dan suaminya yang sudah lebih dulu menguasai tata cara pengobatan Thibunnabawi, bahkan sempat menjadi “instruktur” di beberapa lembaga kesehatan dan juga sempat diundang ke Hong Kong untuk memberikan pelatihan.

Dia mengatakan, selama membuka praktik di rumahnya selalu ada saja masyarakat yang datang berobat. Namun dari segi ekonomi belum banyak membantu karena tak semua pasien membayar dengan uang.

“Jika pasien yang datang habis panen kangkung, maka mereka membayar kami dengan kangkung. Apabila yang datang habis panen mangga, maka mereka membayar kami dengan mangga. Yang lebih mengharukan lagi, pernah ada pasien kami yang pedagang krupuk, sehingga ia membayar layanan kesehatan yang kami berikan dengan kerupuk. Tapi tak sedikit dari mereka yang cukup membayar dengan terima kasih. Bagi kami kesehatan warga jauh lebih penting daripada materi yang kami dapatkan,” Siti Zahra menuturkan.

“Kami senang bisa membantu masyarakat. Meskipun mungkin bantuan kami tak seberapa,” tambah Nur Yasin kepada tim Migrant Institute sebulan lalu saat berkunjung ke rumahnya.

Warga yang datang ke rumah Siti Zahra, selain ingin mendapatkan layanan kesehatan Thibunnabawi, banyak juga yang berkonsultasi mengenai bekerja ke luar negeri, khususnya Hong Kong. Mengingat kurangnya sosialisasi pemerintah tentang apa saja yang terkait dengan aturan hukum yang berlaku untuk bekerja di luar negeri sekaligus hal apa saja yang perlu dipersiapkan, maka MI berinisiatif untuk mendirikan Migrant Crisis Centre di Subang yang merupakan salah satu desa pemasok TKI yang cukup besar.

Oleh sebab itu, MI tak hanya memberikan bimbingan sekaligus dukungan terkait layanan kesehatan Thibunnabawi akan tetapi sekaligus menggandeng Siti Zahra dan keluarganya sebagai mitra MI untuk mendirikan Migrant Crisis Centre di Subang.

“Mbak Siti Zahra adalah mitra MI untuk MCC yang ada di Subang. Insyaallah MCC Subang akan segera diluncurkan dalam waktu dekat,” ujar Adi Candra, Direktur Migrant Institute.

Dia juga menjelaskan, pengadaan alat-alat pendukung untuk layanan kesehatan Thibunnabawi yang dibutuhkan oleh Siti Zahra sedang dalam proses. “Semoga dalam waktu dekat bisa didistribusikan dan segera dimanfaatkan oleh masyarakat,” harapnya.

Langkah ini merupakan wujud keseriusan Migrant Institute dalam menjalankan program BMI purna. Dengan memberdayakan sumber daya dan keterampilan yang dimiliki oleh BMI diharapkan bisa perlahan-lahan mencetak BMI yang dapat mandiri di negeri sendiri. (DJ/MI/ddhongkog.org).*

DDHK News

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *