Friday, May 25, 2018
Beranda > Dunia Islam > Muslim Rohingya Menderita Hidup di Pengungsian

Muslim Rohingya Menderita Hidup di Pengungsian

helpless rohingya muslimMuslim Rohingya terus hidup dalam sebuah episode tak berujung dalam serangkaian penghinaan dan penganiayaan di Myanmar (Burma). Ribuan dari mereka kini hidup di tenda-tenda pengungsian yang dikelilingi kawat berduri dan pos pemeriksaan militer.

“Kami telah berada di sini untuk waktu yang lama,” kata Mohamed Ali, 68 thn, warga Rakhine yang dilanda kerusuhan kepada The Independent. “Ayah saya, kakek saya, mereka lahir di sini (Myanmar).”

Ribuan Muslim Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsi sejak Juni, setelah melarikan diri dari rumah mereka di Rakhine, pasca aksi kekerasan sektarian dengan warga Buddha.

Di kamp pengungsi Borouda, terbesar di Myanmar, 15.000 Muslim Rohingya “menetap” di sana karena dipaksa meninggalkan rumah mereka di Sittwe.

Moniyan Khata, seorang wanita Muslim berusia 38 tahun, mengatakan, lingkungan mereka telah dikelilingi oleh warga Buddha dan polisi. “Kami harus bersembunyi di danau,” katanya.

Wanita yang ketakutan ini tidak tahu alasan di balik serangan oleh umat Buddha. “Kami tidak tahu,” katanya. “Mereka ingin tanah kami, mereka ingin harta benda kami. Mereka ingin kami meninggalkan negara itu (Myanmar)”.

Muslim Rohingnya digambarkan oleh PBB sebagai salah satu minoritas yang paling dianiaya dunia.

Hak kewarganegaraan mereka ditolak pemerintah Myanmar sejak amandemen terhadap undang-undang kewarganegaraan tahun 1982 dan diperlakukan sebagai “imigran ilegal” di tanah kelahiran mereka sendiri.

Pemerintah serta mayoritas warga Buddha menolak untuk mengakui istilah “Rohingya”, tapi memilih julukan “Bengali”. Presiden Myanmar, Thein Sein, mengatakan, kasus Rohingya harus diselesaikan di negara ketiga.

Banyak Muslim Rohingya menempuh perjalanan berbahaya di laut untuk melarikan diri dari serangan warga Buddha.

“Saya datang dalam satu perahu, suami saya di perahu lain, dan anak-anak kami berada di perahu yang berbeda,” kata Chu Kiri, 35 thn, seraya memeluk keempat anaknya yang berada di kamp pengungsi Chaung Te.

Mayoritas warga Buddha menegaskan bahwa Muslim Rohingya bukan warga asli Myanmar, hanya karena mereka bergama Islam.

Muslim Rohingya mengatakan, mereka telah berada di Myanmar selama berabad-abad. “Kami ingin menjadi warga Burma. Kami tidak ingin meninggalkan Rakhine,” kata Aye Maung, seorang guru bahasa Inggris.

Banyak Muslim Rohingya menyatakan kekecewaannya pada pemimpin oposisi dan demokrasi, Aung San Suu Kyi, yang telah menolak untuk mengutuk penganiayaan terhadap Rohingya di Myanmar. “Dia diam,” kata Maung. “Mungkin dia ingin lebih banyak mendapatkan suara dari umat Buddha.” (Mel/Onislam.net/localhost/project/personal/ddhongkong.org/ddhongkong.org).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *