Sunday, November 19, 2017
Beranda > Dunia Islam > Muslimah Azerbaijan: Lebih Baik Mati Ketimbang Lepaskan Jilbab!

Muslimah Azerbaijan: Lebih Baik Mati Ketimbang Lepaskan Jilbab!

DDHK News — Wanita berjilbab merupakan pemandangan langka di Nardaran, sebuah desa miskin di Laut Kaspia, yang telah menjadi benteng aktivisme Islam di Azerbaijan, negara Asia Tengah bekas Uni Soviet. Sejumlah poster di pinggir jalan menyampaikan pesan Al-Quran, alkohol tidak ada di toko-toko lokal, dan ratusan penduduk desa baru-baru ini turun ke jalan untuk memrotes keputusan kontroversial pemerintah yang melarang jilbab di sekolah.

Massa demonstran menunjukkan kemarahannya bulan lalu di luar masjid besar di desa di pinggiran ibukota. Mereka membakar foto Menteri Pendidikan dan meneriakkan: “Kami lebih suka mati daripada melepaskan jilbab”

Jilbab efektif dilarang di sekolah-sekolah tahun lalu oleh aturan baru yang mengharuskan seragam sekolah. Kebijakan itu muncul sebagai salah satu yang paling sekuler di dunia Islam setelah beberapa dekade pemerintahan Soviet.

“Azerbaijan adalah negara sekuler dan masalah ini jelas ditentukan oleh undang-undang tentang pendidikan,” kata Menteri Pendidikan, Misir Mardanov, bulan lalu. “Aturan di sekolah menengah itu tidak bertentangan dengan menjadi seorang Muslim.”

Namun, di Nardaran, banyak orangtua yang marah. “Larangan jilbab merupakan pelanggaran hak beragama,” kata salah seorang penduduk desa, Hikmet Aliyev.

Imam masjid setempat, Adalat Alizade, mengatakan, usaha mengganggu apa yang ia sebut “hukum Tuhan” itu memaksa kaum Muslim berkonflik dengan negara. “Saya tidak ingin menjadi sekuler. Saya orang yang religius,” kata Alizade.

“Ya, saya akan mengamati hukum Azerbaijan, tetapi ketika hukum tertentu bertentangan dengan agama, maka saya akan memberikan preferensi hukum agama.”

Di pusat kota Baku yang telah menikmati ledakan ekonomi akibat minyak dan pendapatan gas, kaum perempuan muda sering memakai busana Barat –gaya dan rok pendek–  dan sebagaian lainnya mengenakan jilbab.

Satu orang tua di ibukota, ibu rumah tangga Gulnara Akhmedova, mengatakan, walaupun ia adalah relijius, ia juga berpendapat bahwa anak sekolah terlalu muda untuk menentukan sendiri apakah akan mengenakan jilbab atau tidak.

“Seorang wanita yang menutupi kepalanya harus mengambil keputusan sendiri tentang jilbab, tetapi anak-anak sering dipaksa untuk memakai jilbab dan mereka pada dasarnya tidak mengerti apa artinya,” kata Akhmedova.

Islam bangkit sejak Azerbaijan merdeka dari Uni Soviet. Pihak berwenang memberlakukan pembatasan ibadah dan kaum radikal Muslim banyan yang ditahan untuk “mencegah penyebaran ekstremisme”.

Tapi, Ilgar Ibrahimoglu, seorang ulama liberal dan aktivis kebebasan beragama, menduga orang-orang yang taat bergama dianiaya negara. “Beberapa orang dalam pemerintah menderita fobia tentang agama dan karena itu berusaha membatasi kebebasan beragama,” katanya.

Ia mengingatkan, ratusan umat Islam berdemonstrasi menentang pelarangan jilbab di luar Departemen Pendidikan di Baku bulan lalu. “Pembatasan hak asasi manusia secara alamiah memprovokasi protes internal,” kata ulama itu.

Menteri Pendidikan Mardanov menduga ada pihak luar yang menggerakkan aksi demo — referensi terselubung mengarah ke negara tetangga Iran.

Azerbaijan memiliki hubungan tidak baik dengan Islam. Dalam kabel diplomatik AS yang dirilis WikiLeaks tahun lalu, Presiden Ilham Aliyev menuduh Teheran membiayai kelompok-“kelompok radikal” di negaranya.

Seorang ulama senior Iran, Ayatollah Naser Makarem Syirazi, mengecam larangan jilbab sebagai “anti-Islam”, meskipun Kementerian Luar Negeri Iran menggambarkan masalah itu sebagai “urusan internal Azerbaijan”.

Pihak berwenang bersikeras, aturan baru akan tetap berlaku, tetapi di Nardaran, penduduk lokal Hikmet Aliyev mengatakan, anak sekolah akan terus memakai jilbab apa pun yang dikatakan kementerian pendidikan.

“Pemerintah tidak bisa melakukan apa-apa karena kita, seluruh desa, menentang larangan itu, dan mereka tidak bisa memaksa gadis-gadis kami untuk pergi ke sekolah tanpa jilbab,” kata Aliyev. (Mel/AFP/Yahoo News).*

DDHK News

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *