Sunday, August 19, 2018
Beranda > Info DD > RRI-DD Kelola Studio 'Tenda Pelipur Lara'

RRI-DD Kelola Studio 'Tenda Pelipur Lara'

Untuk membantu korban Merapi, Radio Republik Iindonesia (RRI) bersama Dompet Dhuafa (DD) kembali mengadakan siaran studio tenda pertama di barak pengungsi, Wukirsari, kemudian berpindah lagi ke tempat yang lebih aman dengan dukungan RRI Yogyakarta. Studio tenda juga dirancang akan dioperasikan untuk korban tsunami di Mentawai.

Sebelumnya,  RRI dan DD mengelola siaran studio tenda “Pelipur Lara” di Padang Pariaman, pasca-gempa Sumatera Barat, 30 September, 2009.  Dengan peralatan studio sederhana dan pemancar berkekuatan kecil, tapi dapat direlay dan merelay siaran stasiun RRI Padang dan jaringan berita nasional Pro 3 RRI Pusat, studio tenda itu dapat berperan multifungsi.

Siaran studio tenda ini berfungsi memberi layanan informasi, pendidikan, hiburan, advokasi, pencerahan dan pemberdayaan bagi korban gempa, baik yang mengungsi di tenda tenda dalam radius layanan studio tenda maupun keluarga mereka yang tinggal di daerah lain dan bahkan di luar negeri.

Tidak hanya itu, studio tenda ini juga melibatkan korban gempa sebagai penyiar dan pengisi acara siaran. Melalui community development programme (program pengembangan masyarakat), angkasawan RRI melatih sejumlah pengungsi menjadi reporter, penyiar dan pengisi acara.

Dengan mudah mereka dapat direkrut karena banyak di antara pengungsi itu yang cerdas dan mempunyai bakat terpendam. Pemberian kesempatan untuk belajar menjadi penyiar bagi sejumlah pengungsi ini berfungsi ganda, yakni sebagai terapi “pelipur lara” (trauma healing), sekaligus pemberian keterampilan sebagai bekal untuk mendapatkan pekerjaan.

Sebagai bagian dari terapi, menjadi reporter, penyiar dan pengisi acara, misalnya menyanyi dan membaca puisi, yang langsung diudarakan bagi orang yang belum pernah mengalami, bahkan membayangkannya sekalipun, dapat memberi sensasi yang menggairahkan, melupakan atau membebaskan dari beban penderitaan dan memberi harapan.

Apalagi, jika tenaga penyiar dadakan itu menyadari bahwa ia memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari aktualisasi diri dan bekal mendapat pekerjaan.

“Radio Gendong”
Gagasan pendirian studio tenda itu berasal dari pengalaman beberapa LSM luar negeri yang dengan serta merta mengoperasikan “radio gendong”, terdiri dari peralatan studio dan pemancar kecil, yang dibawa ke mana-mana dalam dua koper jinjing atau koper beroda, di daerah korban bencana.

Gagasan itu diperkuat ketika seorang praktisi radio Inggris, Mike Adams, dari jaringan “Heart Line”, dalam Festival Radio Internasional II di Teheran, Iran, Mei 2009, menyampaikan presentasi tentang pengalamannya mengoperasikan “radio gendong” nya itu, termasuk di Aceh, pasca-Tsunami 2004.

Kesulitan utama dalam mengoperasikan “radio gendong”, kata Mike, adalah mendapatkan izin frekwensi.

Dari bincang-bincang di Teheran, ia menyatakan akan membuat pelatihan di Jakarta untuk sejumlah LSM. RRI mengirim dua orang sebagai peninjau dalam pelatihan tersebut.

Melihat sukses studio tenda, Pemerintah kota Pariaman akhirnya memutuskan untuk menjadikan studio tenda itu menjadi stasiun produksi RRI, yang mulai beroperasi sejak Agustus lalu. Stasiun produksi ini dapat menjadi cikal bakal sebuah stasiun penyiaran suatu saat nanti, bila diperlukan.

Bantuan Radio Transistor
Menyadari peran penting radio dalam mitigasi bencana, Gubernur Sumatra Barat sejak Gamawan Fauzi (sekarang Mendagri) , Walikota Padang, Fauzi Bahar, dan seluruh jajarannya jika terjadi gempa sejak beberapa tahun segera menjadikan gedung RRI Padang sebagai markas atau kantornya untuk mengendalikan operasi penyelamatan korban gempa.

Melalui RRI Padang, para pejabat pemerintah daerah itu memberi informasi, edukasi, imbauan, hiburan dan pencerahan untuk warga mereka. Gedung RRI Padang, sebuah bangunan kuno, selama ini terbukti tahan gempa.

Belajar dari pengalaman di Padang dan di negara-negara lain yang menggunakan siaran radio dalam upaya mitigasi bencana, bantuan untuk korban bencana sebagian dapat diberikan dalam bentuk radio transistor.

RRI dan DD membagikan ribuan radio transistor untuk korban gempa Yogyakarta tahun 2006, sumbangan dari Rahmad Gobel, pimpinan PT Panasonics Indonesia. Radio transistor sumbangan itu dibawa oleh para korban gempa ke sawah dan ladang sebagai sumber informasi dan hiburan.

Radio transistor dua band yang kecil mungil itu ternyata menjadi teman setia dan pelipur lara dalam suasana duka pasca bencana. Ketika tidak ada aliran listrik, maka radio transistor yang dioperasikan dengan dua baterai kecil menjadi pilihan tepat sebagai alat penyampaian informasi, edukasi dan hiburan.

Program pengoperasian sistem peringatan dini melalui radio sudah dilaksanakan oleh BKMG dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Siaran Merapi

Untuk membantu korban Merapi, RRI dan DD kembali mengadakan siaran studio tenda pertama di barak pengungsi, Wukirsari, kemudian berpindah lagi ke tempat yang lebih aman dengan dukungan RRI Yogyakarta. Studio tenda juga dirancang akan dioperasikan untuk korban tsunami di Mentawai.

Agar MERS atau studio tenda dapat mudah beroperasi di daerah-daerah bencana, pemerintah perlu mengalokasikan frekwensi khusus/darurat kepada RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik. (ANTARA/IRIB/ddhongkong.org)

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *