Setelah Ramadhan Berlalu, Jaga Fitrah!

Setelah Ramadhan berlalu, diikuti “budaya” bermaaf-maafan, hahal bihahal, silaturahmi, bahkan berjuang untuk mudik, idealnya keadaan diri kita kembali kembali suci, bersih, dan kembali pada fitrah sebagai manusia beriman, berjiwa tauhid, hanya mengabdikan diri pada Allah Swt.

Lalu, apakah setelah itu kita mengikuti “arus balik”, berupa kembali kepad kehidupan yang kotor, hanya mengejar dunia, dan melupakan semangat ibadah yang begitu menggebu selama bulan Ramadhan? Tentu idealnya tidak demikian. Harusnya, atmosfer spiritual Ramadhan dapat kita pertahanan.

Imam Syafi’i pernah berpesan, “Idul Fitri bukanlah diperuntukkan bagi orang yang mengenakan sesuatu yang serba baru, tetapi dipersembahkan bagi orang yang ketaatannya bertambah”.

Pasca Ramadhan adalah lembaran baru kehidupan sebagai orang yang bertakwa –sebagaimana tujuan puasa Ramadhan adalah menjadi orang bertakwa. Jika selama Ramadan di rumah kita terdengar ayat-ayat suci Alquran yang dibaca oleh seisi rumah, maka suasana itu mestinya terus dapat dipertahankan.

Jika kita sudah kembali ke fitrah, berarti kita berjiwa tauhid yang selalu cenderung pada kebenaran Ilahi (hanief). Jiwa tauhid melahirkan semangat ibadah, dakwa, dan jihad untuk menegakkan syariat Islam dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Ringkasnya, kembali pada fitrah, berarti kembali pada syariat Islam. Wallahu a’lam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*