Wednesday, September 19, 2018
Beranda > Featured > Temanggung Jateng Dilanda Kerusuhan

Temanggung Jateng Dilanda Kerusuhan

Sembilan warga mengalami luka-luka, tiga bangunan terbakar, dan beberapa gedung rusak pada kerusuhan di Temanggung, Jawa Tengah, sepanjang Selasa siang (8./2). Kapolda Jateng, Edward Aritonang, mengatakan, kini kondisi mulai stabil.
Rumah ibadah yang menjadi sasaran amuk massa pertama kali adalah Gereja Pantekosta yang berada di sebelah Mapolres Temanggung. Dua unit mobil dan enam sepeda motor yang ada di tempat ibadah ini menjadi sasarannya.

Massa juga merusak sekolah dan kantin yang ada di lingkungan tempat ibadah ini. Karena amuk masa kian meluas, aparat polisi melokalisasi pengamanan agar aksi anarkis tak meluas di wilayah kota Temanggung

“Untuk upaya ini, Polres Temanggung mendapat dukungan personel pengamanan dari Polres yang ada di sekitar Temanggung dan pasukan TNI Kodam IV/Diponegoro,” imbuh Edward.

Bangunan lain yang dirusak adalah gedung PN Temanggung yang rusak di beberapa bagian, seperti kaca jendela pecah, pintu, dan beberapa kursi di ruang sidang juga mengalami kerusakan.

Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Langgeng Sulitstiono menyampaikan dukungan terhadap Polda Jawa Tengah dilakukan pada upaya melokalisasi  agar kerusuhan tak meluas.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Temanggung minta kepada seluruh umat Islam di daerah ini tidak terpancing provokasi atas kerusuhan berbau sara. Sedangkan NU dan Muhammadiyah menyatakan tidak menyetujui perilaku anarkis yang dilakukan sekelompok orang, apalagi  merusak atau membakar tempat-tempat ibadah.

“Kami mengimbau kepada seluruh umat Islam di Temanggung agar tidak terpancing isu-isu dan provokasi, kami mengutuk tindakan itu,’’ kata salah seorang wakil Ketua MUI Temangggung, KH. As’ari Muhadi.

Apalagi, kata As’ari, tindakan anarkis bukan merupakan tipe umat Islam di daerahnya. Islam itu, kata As’ari, merupakan agama perdamaian.

Menyikapi persoalan kasus penistaan agama yang menjadi pemicu kerusuhan di daerahnya itu, As’ari minta semua pihak agar menaaati proses hukum yang sedang berjalan.

“Barangkali, sebagian anak muda kita tersulut emosinya dengan perbuatan terdakwa karena dihina keyakinannya, tapi hendaknya tetap harus menghormati proses hukum yang sedang berlangsung,’’ ujarnya.

Kalaupun nantinya tidak puas dengan putusan pengadilan, hendaknya disampaikan secara resmi dan santun, bukan dengan cara-cara anarkis.

Badan Keselamatan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kecamatan Temanggung menduga, ribuan orang yang mengamuk di Pengadilan Negeri (PN) Temanggung datang dari berbagai daerah di luar kota. Mengantisipasi kembalinya massa ke kota penghasil tembakau itu, aparat gabungan menjaga perbatasan wilayah tersebut.

Staf Kesbanglinmas Kecamatan Temanggung Bambang Hartoyo mengatakan, penjagaan perbatasan tersebut dilakukan di beberapa pintu masuk ke Temanggung, seperti jalur menuju Magelang dan Semarang.

“Karena dari informasi yang kita terima mereka ini tidak hanya berasal dari Temanggung tapi juga ada yang berasal dari Kendal, Solo, Batang,” kata Bambang.

Penjagaan juga dilakukan di seluruh gereja yang ada di Temanggung oleh aparat gabungan TNI-Polri.

“Ini mengantisipasi kejadian pengerusakan terjadi kembali,” jelas Bambang.

Kerusuhan dipicu oleh ketidakpuasan massa atas tuntutan lima tahun penjara kepada terdakwa penistaan agama Islam, Antonius Richmond Bawengan. Massa yang terdiri dari beberapa ormas tidak terima dan marah. Tuntutan itu dinilai sangat ringan dari perbuataan terdakwa yang menyebarkan selebaran menjelek-jelekkan agama Islam.

Minta Maaf
Sejak kali pertama digelar pada 13 Januari 2011, sidang kasus penistaan agama yang mendudukkan warga asal Jakarta Timur itu sudah menyedot perhatian khalayak. Ratusan orang selalu ikut terjun memantau jalannya peradilan yang digelar rutin tiap satu minggu sekali.

Tuntutan massa agar terdakwa dihukum mati acap menimbulkan gesekan dengan aparat penegak hukum, karena dalam KUHP jelas disebutkan ancaman hukuman Pasal 156a yang dijeratkan kepada terdakwa maksimal adalah lima tahun penjara.

Pada Selasa (8/2), majelis hakim yang diketuai Dwi Dayanto menjatuhkan vonis lima tahun penjara kepada Antonius. “Majelis tidak menemukan hal yang meringankan terdakwa. Sedangkan hal yang memberatkan karena terdakwa memberi keterangan berbelit dan perbuatannya meresahkan warga,” tandas Dwi.

Dalam rangkaian sidang yang sama, jaksa Yulianta sebelumnya juga mengajukan tuntutan dengan hukuman yang sama yakni lima tahun penjara. Menanggapi tuntutan itu, terdakwa tanpa didampingi pensehat hukum langsung menyampaikan pembelaannya secara lisan.

Dalam keterangannya, Antonius mengaku bersalah dan sangat menyesal atas perbuatannya.

“Saya berjanji tidak akan mengulanginya. Saya juga meminta maaf kepada semua pihak yang telah terluka akibat perbuatan saya, terutama umat Muslim di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Selama persidangan, pria kelahiran Manado itu terlihat cukup tenang. Sempat terjadi insiden di awal sidang saat salah satu pengunjung tiba-tiba menyeruak dari pintu samping dan berusaha memukul terdakwa. Akibat kejadian ini, sidang yang baru berlangsung lima menit terpaksa diskors, dan terdakwa langsung diamankan di dalam mobil Brimob. Setelah massa tenang, sekitar setengah jam kemudian sidang kembali dilanjutkan.

Dari fakta yang terungkap di pengadilan, tindakan Antonius membagikan buku yang berisi pelecehan terhadap agama dan umat Islam, memang sengaja ia lakukan untuk kepentingan penyebaran agama yang ia anut.

Antonius ditangkap oleh dua orang warga Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung pada tanggal 23 Oktober 2010 saat sedang menjalankan aksinya di sekitar tempat tinggal mereka.

Dia kemudian dibawa ke rumah Ketua RW setempat. Disana, Antonius sempat melarikan diri namun berhasil ditangkap kembali oleh warga dan diserahkan ke kantor Polsek. Berdasar keterangan saksi ahli dari kalangan MUI Temanggung saat dihadirkan di persidangan, disebutkan dalam buku berjudul “Ya Tuhanku Tertipu Aku” yang disebarkan Antonius.

Tertuang dalam buku tersebut, banyak terdapat nukilan ayat kitab suci Alquran dan Alhadist yang hanya ditulis sepotong-potong. Akibatnya, makna ayat tersebut menjadi tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Buku itu juga memuat kalimat pelecehan terhadap simbol Hajar Aswad dan Ka’bah. (Mel/Republika/Detikcom/Tempo/CyberNews).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *