Tuesday, November 21, 2017
Beranda > Romantika BMI > Tidak Hati-Hati, Aku Tertipu Saat ke PJTKI

Tidak Hati-Hati, Aku Tertipu Saat ke PJTKI

doa

doa“Neng ada yang nelfon,” teriak ibu dari dalam memanggilku, sedangkan aku ada di teras rumah. Segera kumasuk mengambil HP dan terhanyut dalam obrolan dengan si penelfon.

Setelah lama ngobrol aku pun mengakhirinya, meletakan HP kembali di atas meja. Buru-buru aku beranjak ke dapur menemui ibu yang sibuk masak. Aku duduk di kursi tidak jauh dari ibu.

“Ibu… tadi dari kantor PJTKI, visaku sudah turun disuruh cepat-cepat berangkat ke penampungan,” tanpa basa-basi aku bercerita. Senyum sumringah terukir di wajah ibu menandakan balasan ucapanku.

Tiga hari kemudian

Tepat pukul 13:00 WIB akhirnya aku sampai di terminal Surabaya. Panas matahari sudah mulai terasa walaupun bus yang kutumpangi ber-AC. Keramaian sudah terdengar dari suara pengamen, pedagang,para calo yang merayu penumpang, teriakan tukang ojek, dan keributan lainnya menjadi suasana semakin bingar.

Bergegas kukemas-kemas barang bawaanku tas punggung, tas plastik tempat makanan dan tak ketinggalan ku raih buku bacaanku yang terdampar di jok bus.

Antrean panjang terjadi ketika turun dari mobil. Para penumpang dengan hati-hati menuruni anak tangga pintu keluar. “Akhirnya aku sampai juga,” ucap syukurku.

Pak kondektur membantuku mengambil koper yang ada di bagasi. Dengan rasa lelah kuseret koper menuju mushola terminal, tempat biasa Pak Didi (Satpam PJTKI) menjemputku.

Tak menunggu lama aku menghubungi Pak Didi untuk memberitahukan keberadaanku di mushola, yang ternyata ia sudah dalam perjalanan menuju lokasi.

Selang beberapa menit datang seorang laki-laki seumuran Pak Didi mendekatiku dan menegurku. Dengan sepeda motornya dia mengajakku menuju PJTKI. Aku sedikit ragu, karena katanya dia suruhan Pak Didi dan motor yang digunakan pun bukan motor Mio hitam yang biasa dibawanya.

Melewati mall-mall besar, stasiun, rumah sakit, aku bingung dan takut mau tanya sama dia. Mungkin aku terlalu capek karena seharian perjalanan menuju Surabaya. Karena aku berasal dari Jawa Barat jadi lebih baik ambil perjalanan malam.

Tiba di depan tikungan jalan, dengan sedikit membentak dia menyuruhku turun dari motor, alasannya aku tidak memakai helm pas sekali di depan ada polisi yang sedang bertugas.

Dia berjanji setelah melewati tikungan aku bisa melanjutkan perjalanan lagi. Aku pun dengan terpaksa menuruti dia, berjalan menyeret koper besar.

Jarak antara tempat aku turun dari motor lumayan jauh untuk sampai ke tikungan. Sepanjang jalan aku menggerutu sendiri kenapa dari awal dia gak bawain helm untukku,”aneh sekali”…gerutuku.

Baru saja aku berpikir ganjil terhadap dia, kesadaranku mulai terasa tetapi aku tetap berjalan nunduk. Degggg!

Sontak pandanganku sibuk mencari si pengendara motor. Jalanan di depan sudah tidak terlihat orang yang bawa motor dengan membawa tas punggungku.

“Gustiii…..” ratapku dalam duka.

Aku berlari terseok-seok mengejar dia,tapi apalah daya jejak sudah tak terlihat lagi. Serasa langit menertawai kebodohanku, pohon-pohon di jalanan mengejek tingkahku. Aku berdiri lama diam di tempat,entah apa yang aku pikirkan.

Dompet, hand phone, semua barang berharga kutaruh di tas punggung. Sekarang semuanya hilang dalam hitungan menit. “Ya Allah engkau yang maha penolong tolonglah hambamu ini,” batinku.

Aku melihat tukang ojek, tukang becak berjejer rapi di ujung tikungan jalan. Aku mendekati mereka meminta bantuan. Setelah mereka mendengar ceritaku mereka merasa iba.

Ada salah satu tukang ojeg bersedia mengantarkanku ke PJTKI. Sebut saja namanya Pak Muslim, beliau asli Surabaya, jadi paham alamat PJTKI tempat tujuanku. Menurut beliau selama aku dibawa oleh si pengendara tadi, ternyata itu jauh sekali untuk tempat tujuanku.

Pak Muslim menasehatiku untuk sabar dan ikhlas. Aku di jok motor duduk meringkuk dengan tangan mendekap koper. Isak-tangisku tak kunjung henti, membuat Pak Muslim ngajak ngobrol menghiburku.

Tepat pukul 14:30 WIB aku tiba di kantor PJTKI. Mataku sembab, wajahku kusut, jilbabku tak karuan bentuknya, aku cuek, masuk gerbang kantor mengikuti Pak Muslim.

Riuh penghuni kantor setelah mendengar penjelasan dari Pak Muslim. Entah mereka mencemoohkanku, mengejekku, atau terharu atas apa yang menimpaku.

Aku langsung menyandar duduk di teras, memikirkan bagaimana keberangkatanku ke Hong Kong tanpa uang sepeser pun.

Akhirnya Pak Muslim pamit pulang. Ia menolak ongkos yang aku kasih. Aku menyampaikan rasa terima kasihku karena ia sudah membantuku.

Gerbang ditutup dan aku pun kembali duduk di depan teras. Beberapa menit kemudian Pak Didi datang, langsung mendekatiku dan tanya banyak hal. Ia merasa bersyukur bisa melihatku sampai di PJTKI dengan selamat.

“Dulu aku juga pernah mengalami kejadian persis sama seperti kamu nduk, semuanya raib yang tersisa hanyalah sekantung plastik isi makanan,” kenang Pak Diri.

Aku yakin ini semua ujian dari-Nya, supaya niatku lebih kuat untuk merantau di luar negeri, mengais rezeki membantu keluargaku.

Esok harinya aku menemui Pak Farhan, pemilik PJTKI. Ia sudah tahu semua musibah yang terjadi padaku.Tanpa aku minta ia memberiku uang 300 ribu untuk membeli keperluanku. Aku senang dan bertambah rasa syukurku. Allah pasti memudahkan jalanku.

Setelah makan siang aku bersama teman-temanku keluar dari penampungan untuk membeli keperluanku dan telfon ibu ku. Mungkin ibu khawatir setelah kepergianku tidak ada ada kabar lagi.

Aku menyampaikan bahwa handphoneku hilang di penampungan. Aku tidak cerita sedikit pun semua musibah yang menimpaku. Dengan suara parau menahan rasa sakit dan sedih, aku meminta doa tulus dari ibuku supaya penerbanganku lancar dan mendapatkan majikan yang baik.

Malam pun tiba, malam terakhir aku bisa menikmati kemilaunya bintang di langit sebelum kakiku menginjakan tanah Hong Kong. Setelah “yasinan”, syukuran anak-anak yang mau terbang, aku bersama teman-temanku keluar untuk menikmati sejuknya malam kota Sidoarjo di alun-alun.

Ramai sekali suasana di jalanan menuju alun-alun. Banyak pemuda pemudi yang duduk lesehan di dampingi makanan kecil khas Sidoarjo. Kami pun melakukan hal yang sama, ngobrol canda tawa menikmati jajanan.

Sekarang aku dapat majikan yang baik dan setiap liburku aku gunakan untuk menuntut ilmu. (Seperti dituturkan kepada Minnie Andrianto/localhost/project/personal/ddhongkong.org/ddhongkong.org/dompetdhuafa.org).*

DDHK News

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *