Sunday, August 19, 2018
Beranda > Indonesia > TKI Asal Wonosobo Terancam Hukuman Mati di China

TKI Asal Wonosobo Terancam Hukuman Mati di China

TKI asal Wonosobo, Nur Budiyati, terancam hukuman mati di China lantaran tertangkap membawa narkoba jenis heroin seberat 1 kg. Tragisnya, Budiyati sama sekali tidak tahu jika dirinya membawa narkoba.

Aktivis buruh migran dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Wonosobo, Saras, mengatakan, Nur Bidayati berangkat sebagai TKI ke Hong Kong pada 29 Februari 2008. Budiyati diberangkatkan oleh agen TKI PT Dindin Berkat Wonosobo. Namun, setelah 8 bulan bekerja, ibu 3 orang anak tersebut mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Seharusnya dibawa pulang oleh agensinya tapi malah dibawa ke China dengan alasan menunggu majikan baru di Hongkong. Dari situlah permasalahan dimulai saat Nur Bidayati dititipi sebuah barang oleh Peter warga negara Ghana. Ternyata barang itu berisi heroin,” kata Saras saat mendampingi keluarga Nur Bidayati bertemu dengan Anggota Komisi IX DPR RI Rieke Diah Pitaloka di ruangannya, Selasa (20/9).

Nur Bidayati ditangkap di Baiyun International Airport, Guangzhou China, pada 17 Desember 2008. Saras menuturkan, berdasarkan pengakuan Nur Bidayati, tak ada satu pun pengacara yang mendampingi saat persidangan. Tercatat, sudah dua kali persidangan dijalani TKI berusia 38 tahun tersebut.

Pihak keluarga sendiri, lanjut Saras, baru mengetahui Nur Bidayati ditahan di Rutan No 1 Kota Guangzho beberapa bulan silam. Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri sebenarnya sudah mengirim surat, namun ditujukan kepada mantan suami yang bersangkutan bernama Ahmadun. “Tapi karena merasa sudah bercerai sang suami melakukan pembiaran atas surat tersebut,” ucap Saras.

Ayah Nur Bidayati, Masruri yang ikut bertemu Rieke, berharap anaknya dapat dibebaskan dari segala tuntutan. “Saya sudah kirim surat ke presiden. Permintaannya untuk dibebaskan karena keluarga yakin Nur Bidayati tidak bersalah,” ungkap Masruri.

Anak Budiyati yang bernama Aziz juga menyampaikan harapan serupa. Ada keinginan yang sudah lama ia pendam untuk bisa berkomunikasi dengan sang ibu.

“Komunikasi terakhir sama ibu saat sebelum berangkat tahun 2008. Minimal ada komunikasi dulu. Saya ingin tahu kondisi ibu sekarang,” tuturnya.

Rieke Diah Pitaloka yang menerima langsung kedatangan keluarga Nur Bidayati menegaskan, dirinya sudah menyampaikan permasalahan ini kepada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Terkait pengakuan Nur Bidayati bahwa tidak ada pengacara maupun pendamping, Rieke mengaku sangat menyayangkan.

“Kalau dari saya, apakah orang itu benar atau salah harus ada pendampingan hukum. Perusahaan yang memberangkatan juga harus dipanggil oleh Kemenakertrans. Ada 29 TKI di China terancam hukuman mati karena dititipi narkoba kebanyakan TKI dari Jawa Tengah,” tegasnya.

Kepala Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat saat dihubungi sejumlah wartawan membenarkan bahwa Nur Bidayati saat ini masih ditahan. Namun Jumhur membantah bahwa tidak ada pendampingan hukum bagi Bidayati.

“Dari KJRI sudah melakukan upaya maksimal dengan memberikan legal aid atau pendamping hukum dan penerjemah yang difasilitasi oleh pemerintah setempat. KJRI juga sudah mengunjungi yang bersangkutan. Sekarang kita sudah mendapatkan penundaan hukum selama 2 tahun sampai Februari 2012. Jika berkelakuan baik, kita berharap hukuman bisa lebih ringan jadi 20 tahun atau seumur hidup,” terangnya.

Berdasarkan data BNP2TKI, ada 22 WNI di China yang terancam hukuman mati. Kasus yang menimpa kebanyakan adalah narkoba. Namun, dari 22 WNI tersebut, tidak semua merupakan TKI, melainkan ada beberapa yang merupakan WNI biasa. (JPPN.COM)

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *