Wednesday, November 21, 2018
Beranda > Ragam > Karya Pipiet Senja Teranyar: Hasil Interaksi Dengan BMI Hong Kong

Karya Pipiet Senja Teranyar: Hasil Interaksi Dengan BMI Hong Kong

Judul: Kepada Yth. Presiden RI

Penerbit: Jendela (imprintnya Zikrul Hakim)

Bapak Presiden RI: Adakah Mengetahui Perihal Demikian?

Sindikat Agen Pemeras Tenaga Kerja Wanita di Hong Kong dan Macau

Sabtu, 24 Juli 2010

Dari hasil  kunjungan ke shelter-shelter alias rumah singgah para perantau, disebut juga BMI atau tenaga kerja wanita Indonesia di Hong Kong dan Macau, banyak sekali saya mendengar ketakadilan, kezaliman dan kekejian yang dialami mereka akibat  ulah agen.

Kelakuan, tindakan kejam tak manusiawi agen-agen nakal (tepatnya biadab!) ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan BMI Hong Kong dan Macau. Menurut sumber yang dapat dipercaya, seorang aktivis yang sering dimintai bantuan menyelesaikan kasus para perantau Indonesia.

“Mereka, para agen nakal itu sudah merupakan suatu kesatuan yang sangut kuat, tangguh. Tak ubahnya sebuah sindikat yang hobinya memeras tenaga kerja wanita kita di sini. Waktu saya memasuki Hong Kong (1986), mereka masih tidak bergigi. Tapi dari waktu ke waktu agen-agen itu (yang nakal, menyimpang) ternyata semakin banyak. Sulit ditembus, sulit diberantas!”

“Mengapa?” tanya saya jadi ikut geram.

“Ya, karena mereka sudah kongkalikong dengan majikan, bahkan dengan oknum-oknum di Konsulat.”

Seperti yang dialami oleh Sulis (bukan nama sebenarnya), perempuan asli Malang ini nasibnya memang malang nian. Ia sudah lebih dua tahun di Hong Kong, tetapi setiap kali dapat majikan dan baru bekerja selama 7 bulan, langsung di-terminit alias dipecat.

Selama 7 bulan gajinya langsung dipotong sejumlah 3000 dolar HK, sekitar 25 juta rupiah. Ia hanya mengantongi sisanya 580 dolar HK. Padahal, pekerjaannya nyaris tanpa jeda, 24 jam, jika libur harus dipotong pula sebanyak 100 dolar HK, yang seharusnya menjadi haknya sebagaimana tertera dalam peraturan perburuhan di negeri beton ini.

Coba Anda hitung sendiri, uang yang bisa Sulis kantongi selama lebih 2 tahun itu; 580 dikali 21, masih harus dikurangi untuk setiap liburan yang dia ambil, dan keperluan pribadi seperti makan, baju de-el-el.

“Yang ada makin lama bukannya makin subur, malah serasa makin melarat, penuh derita,” kesahnya dengan mimik letih.

Ternyata Sulis tidak sendirian, masih antri di belakangnya dengan kasus serupa dan agen yang sama; Bandung Enterprise.

“Catat saja, Teteh, sebarkan, suarakan jeritan hati kami ini,” pinta mereka dengan penuh harap.

Nasya, relawan Dompet Dhuafa yang mendampingi seorang perantau dengan kasus di-terminit tanpa alasan jelas alias hanya akal-akalan agen dengan majikan, berkata:”Begitu kami muncul di kantor agen itu, dia sudah teriak-teriak dengan kasar. Bahkan menunjuk-nunjuk jidat temanku yang diinterminit itu!”

“Apa katanya, Sya?”

“He, kamu, orang Indon, kita sudah keluar duit mahal juga! Bertingkah! Semua orang Indon bego! Anjing, babi….!” Sumpah-serapah dengan kata-kata yang sangat tidak senonoh, seluruh nama binatang disebutkan!

Nasya mengancam memanggil polisi, agar agen itu mau memberikan dokumen temannya yang ditahan. Setelah polisi datang, memaksa agen itu menuruti permintaan rekan Nasya, barulah paspor dan surat kontrak tersebut diserahkan.

“Ya, para TKW lebih mudah jika minta bantuan dari Pemerintah Hong Kong daripada ke Konsulat!” cetus seorang Nakerwan penghuni shelter Jordan, kasusnya dianiaya majikan dan underpay.

“Mereka hanya sebatas menggugurkan tugas belaka,” komentar teman lainnya, kasusnya nyaris diperkosa kakek majikan. “Dipulangkan! Padahal, kami masih berharap bisa menuntut majikan, mendapat hak-hak kami gaji yang belum dibayar. Kami masih mau kerja di sini, lah, enak saja main dipulangkan. Tanpa dicarikan solusinya!” lanjutnya geram.

“Saya disuruh pergi ke Macau besok dan sudah menandatangani kontrak baru,” lapor Asih, seorang Nakerwan yang telah di-terminit, agen tak mau tahu dia harus tinggal di mana, maka dia tinggal di shelter Iqro, salah satu shelter di bawah pembinaan Dompet Dhuafa Hong Kong.

Untuk keperluan memperpanjang visa, dia harus pergi ke Macau dengan perjanjian kelak gajinya akan dipotong sejumlah 3000 dolar HK selama 3 bulan penuh, dan dia pun harus memberi jaminan sebanyak 3000 dolar HK.

“Tapi saya ragu, karena teman saya yang sudah ada di rumah penampungan agen di Macau telepon. Katanya, di sana sangat susah, kondisinya tidak layak dengan uang yang harus dikeluarkan itu (3000 dolar HK).”

Kalau dilaporkan ke pihak Konsulat, biasanya agen tersebut memang di-black list, tetapi hanya sementara dan tetap bisa beroperasi. Caranya dengan menumpang ke agen lain dan memakai nama lain. Dan agen-agen kejam ini dari waktu ke waktu terus berkeliaran, ada yang asli orang Hong Kong, tetapi cukup banyak juga orang Indonesia sendiri!

Melalui tulisan ini, ingin penulis sampaikan suara hati mereka, jeritan hati mereka, derita para tenaga kerja Indonesia di negeri beton dan Macau ini, kepada para Birokrat kita, bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat Anggota Dewan serta Pemerintah.

Sambil bertanya-tanya: “Adakah Anda mengetahui perihal yang demikian ini, Wahai Bapak Presiden Republik Indonesia?”

Salam Cinta dan Merdeka!

(Pipiet Senja, Causeway Bay-Hong Kong)

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

0 thoughts on “Karya Pipiet Senja Teranyar: Hasil Interaksi Dengan BMI Hong Kong

  1. “Ya, para TKW lebih mudah jika minta bantuan dari Pemerintah Hong Kong daripada ke Konsulat!” cetus seorang Nakerwan penghuni shelter Jordan, kasusnya dianiaya majikan dan underpay.”, innalilahi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *