Wednesday, November 21, 2018
Beranda > Dunia Islam > Kebangkitan Rakyat Mesir, Revolusi Global

Kebangkitan Rakyat Mesir, Revolusi Global

Protes anti-rezim Mubarak telah memasuki hari ke-13. Demonstran membanjiri Bundaran Tahrir dan tetap menyeru pengunduran diri Presiden Hosni Mubarak.

Hari itu disebut sebagai “Hari Syuhada”. Di bundaran Tahrir, kondisi sepenuhnya dikendalikan Komite Revolusi Rakyat Mesir. Bahkan, pasukan keamanan sudah mulai ditarik dari tempat kerumunan para pendemo anti-Mubarak.

Yang lebih menarik lagi, masyarakat Kristen Mesir juga bergabung dengan para pendemo anti-Mubarak di bundaran Tahrir. Ummat Kristiani juga melakukan ibadah di bundaran Tahrir pada hari Ahad (6/2).

Partisipasi aktif ummat Kristiani dinilai sebagai fenomena baru dalam revolusi rakyat Mesir untuk menumbangkan rezim Mubarak. Dengan partisipasi ummat Kristini, revolusi Mesir bukan hanya milik kelompok politik atau agama tertentu. Kekompakan ummat Kristen dan Islam dalam melawan rezim Mubarak kian mengokohkan barisan pendemo anti-Mubarak.

Pada hari ke-13 aksi unjuk rasa yang juga disebut sebagai Hari Syuhada, para pendemo juga menggelar aksi demo di tempat gugurnya para syuhada dalam melawan rezim Mubarak akhir-akhir ini.

Sebelumnya, Persatuan Ulama Muslimin Sedunia, hari Ahad lalu, menyatakan bahwa para pendemo yang gugur dalam aksi demo karena tembakan peluru pasukan keamanan dihukumi sebagai syuhada di sisi Allah Swt. Pernyataan resmi organisasi ini yang juga berpusat di Mesir secara tidak langsung menyatakan fatwa jihad melawan rezim Mubarak.

Pada Sabtu (5/2), Gamal Mubarak, putra Hosni Mubarak yang digadang-gadang menjadi presiden mendatang Mesir, menyatakan mundur dari jabatan Sekjen Partai Demokrat Nasional.

Bagi para pendemo, pengunduran diri Gamal Mubarak itu termasuk kemenangan tersendiri. Meski demikian, para pendemo tetap menargetkan lengsernya Mubarak. Lebih dari itu, mereka juga menuntut Mubarak supaya diadili.

Berita kemungkinan kaburnya Mubarak ke luar negeri juga kian santer. Koran New York Times baru-baru ini, melaporkan, “Mubarak akan meninggalkan Sharm El-Sheikh menuju Jerman. Ini adalah langkah keluarnya Mubarak dengan cara terhormat.”

Laporan itu juga menyebutkan, ” Keluarnya Mubarak dirancang oleh Kamar Ide AS yang dibentuk untuk mengatasi krisis Mesir.”

Sudah menjadi harga mati bahwa Mubarak harus lengser. Meski masa kepresidenan Mubarak tinggal 200 hari lagi, tapi para pendemo tetap tidak peduli dan terus menuntut mundurnya Mubarak.

Rupanya, masyarakat Mesir sudah tidak sabar lagi mengganjar Mubarak yang menghinakan rakyat selama memimpin negara ini.

Kolomnis terkenal dan pengamat politik Mesir, Hasnein Heikal, mengatakan, “Revolusi rakyat Mesir telah menggoyang sendi-sendi rezim Mubarak.”

Dikatakannya pula, revolusi ini mampu mengembalikan spirit nasionalisme masyarakat Mesir. Heikal juga mengatakan, “Para pendemo di bundaran Tahrir menunjukkan kebesaran bangsa Mesir. Mereka adalah masyarakat yang paling mulia dan simbol keagungan Mesir.”

Lebih lanjut Heikal mengatakan, “Refleksi revolusi Mesir bukan hanya berimbas pada negara-negara Arab, tapi juga pada seluruh dunia.” (IRIB/AR/AHF)

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *