Beranda > Dunia Islam > Khutbah Idul Adha: Ibadah Kurban Mengandung Nilai Ketauhidan Hingga Kepekaan Sosial

Khutbah Idul Adha: Ibadah Kurban Mengandung Nilai Ketauhidan Hingga Kepekaan Sosial

tujuan utama pelaksanaan kurban, Pesan utama ibadah kurban

Pesan-pesan terbesar dari peringatan pelaksaan rangkaian Idul Qurban yang sedang kita rayakan hari ini, tentu bukan hanya sekedar memperingati peristiwa sejarah kemanusian dari keluarga Nabi Ibrahim as saja. Namun lebih dari itu, untuk membangkitkan semangat dan kesadaran dalam jiwa kita, yang harus siap berkorban untuk kebahagian diri sendiri dan untuk orang lain. Kita harus siap menyongsong keberhasilan dan peningkatan hidup dengan perjuangan dan pengorbanan.

Pelaksanaan ibadah kurban hari ini, sekurang-kurangnya ada empat pesan utama yang dapat kita petik dan sejauh mana kita mampu mengimpelementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama; Pesan utama ibadah kurban adanya nilai tauhid. Unsur ketauhidan dari aspek ibadah kurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as dengan jalan mengorbankan Ismail telah mengajarkan kepada kita agar bertauhid yang benar.

Nabi Ibrahim dan keluarganya mampu membebaskan dirinya dari penghambaan terhadap materi, dalam hal ini anak yang dicintainya, menuju penghambaan hanya kepada Allah semata. Melalui pesan ibadah kurban ini mereka mampu memperlihatkan keimanan, ketundukan dan ketaatannya hanya kepada Allah, Pemilik Alam Semesta.

Nabi Ibrahim telah berhasil melepaskan diri dari kelengketannya terhadap dunia, baik jasad, jiwa, hati, maupun ruhnya. Sebab, kelengketan terhadap dunia akan menjadi penghalang seseorang untuk melakukan pengorbanan, ketaatan maupun kepatuhan dalam menjalankan perintah Allah swt.

Kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah terlihat dalam lantunan doanya:

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّموتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْن. قُلْ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ. لَاشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْن

“Kuhadapkan mukaku, kepada yang menjadikan langit dan bumi, aku cenderung lagi berserah kepada Allah dan bukanlah aku dari golongan orang-orang yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku kuserahkan hanya pada Allah tuhan seru sekelian alam. Sekali-kali tidaklah aku menyekutukanNya. Dan dengan demikian aku ditugaskan, dan aku adalah dari golongan orang-orang Muslim (Islam)”.

Nilai tauhid yang ada dalam kisah kurban adalah pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim diperuntukan hanya untuk Allah semata tidak untuk selain-Nya. Kisah kurban ini menegaskan penyangkalan dan pelarangan melakukan ibadah kurban yang dilaksanakan untuk sesembahan selain Allah, seperti melakukan kurban yang diperuntukan bagi sesuatu agar tidak ditimpa bencana, atau melakukan qurban yang diperuntukan bagi sesuatu yang akan mendatangkan manfaat. Padahal, yang dapat menimpakan bencana dan mendatangkan manfaat hanyalah Allah semata.

Kedua; Ibadah kurban membawa pesan spiritualitas. Ibadah qurban merupakan salah satu instrumen atau sarana untuk pembuktian: sejauh mana keimanan seseorang kepada Allah swt. Bentuk rasa keimanan seseorang juga meliputi keikhlasan. Artinya, harus murni dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya.

Sebagaimana firman Allah dalam Quran surat Al Kautsar ayat 1-3:

إِنَّا أَعْطَيْنكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.

Berkurban bukan karena rasa malu kepada masyarakat jika tidak berkurban, karena kita orang mampu, atau karena orang mampu ingin dilihat sebagai orang yang rajin melaksanakan ibadah, atau dimaksudkan untuk pencitraan semata. Jika berkurban seperti itu tidak akan pernah diterima disisi Allah swt dan ibadahnya dapat dikatakan tidak ada di dalamnya unsur spiritual. Bahkan ibadah yang seperti itu akan mendapat dosa dari apa yang telah diperbuat.

Oleh karenanya, ketika melaksanakan ibadah kurban dituntut adanya keikhlasan yang tumbuh dari lubuk hati yang dalam, sehingga diterima Allah swt sebagi amal sholeh. Berkurban diharapkan dapat menumbuhkan dan mengasah rasa keikhlasan dalam agama.

Rasa keimanan juga meliputi ketaatan. Dengan arti kata, ibadah kurban harus dilaksanakan atas dasar ketaatan kepada perintah Allah swt dan bukan atas ketaatan kepada selain-Nya. Dengan berkurban, dapat meningkatkan ketaatan kepada Allah dalam segala bentuk ketaatan, baik dalam menjalankan perintah Allah, maupun ketaatan dalam menjauhi segala larangan-Nya. Baik dalam kesendirian, ataupun keramaian, dalam suasana susah atau gembira.

Bahkan yang terpenting dari rasa keimanan adanya semangat pengorbanan yang direfleksikan dalam bentuk materi yang kita persembahkan, yaitu hewan ternak, yang dengannya kita telah mengeluarkan harta yang dicintai demi melaksanakan perintah Allah. Ritual ibadah kurban telah melatih kita untuk selalu siap berkorban, sebagaimana halnya Nabi Ibrahim as yang rela mengorbankan anak yang dicintainya, demi menjalankan perintah Allah.

Ketiga; Melalui ibadah kurban telah memesankan kepada manusia adanya kepekaan sosial. Dalam ibadah kurban juga terdapat nilai-nilai sosial, karena setiap ibadah yang Allah syari’atkan untuk hamba-Nya terkandung nilai-nilai sosial.

Sebab, Islam adalah agama yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial. Sehingga, banyak kita temukan baik dalam al Qur’an maupun hadits yang terkandung di dalamnya nilai-nilai sosial-kemanusiaan, seperti pelaksanaaan ibadah kurban, menyantuni anak yatim, dan memberi makan fakir miskin.

Oleh karenanya tujuan utama pelaksanaan kurban bukan hanya sekedar ibadah semata untuk meraih pahala akhirat, tapi juga bertujuan bagi kemaslahatan umat manusia di dunia. Yaitu, saling membagi antar sesama makhluk sosial. Barangkali, kita saban hari bisa menikmati lezatnya daging kambing, sapi dan kerbau. ,Namun belum tentu bagi suadara kita yang lain, karena keterbatasan ekonomi. Saat momen hari Idul Qurban ini barangkali mereka bisa terhibur dengan menikmati daging kurban yang kita bagikan untuk mereka.

Keempat; Ibadah kurban juga mengandung pesan moral yang ditunjukkan dengan simbol-simbol yang ada dalam ritual ibadah kurban. Sejarah mencatat, pelaksanaan kurban Nabi Ibrahim as merupakan pesan sejarah yang penuh dengan nilai pengorbanan.

Coba bayangan, ketika Nabi Ibrahim diperintah Allah swt untuk mengorbankan anaknya Ismail. beliau dibayang-bayangi hilangnya sebuah generasi yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri. Orang bijak pernah mengatakan, “Anak jauh lebih berharga daripada harta benda: lebih baik kehilangan harta benda daripada kehilangan anak”. Apalagi, jika anak itu merupakan anak yang dicintai dan selalu dinanti-nantikan kehadirannya untuk melanjutkan keturunan sebagaimana halnya Ismail yang dipersiapkan sebagai putra mahkota untuk melanjutkan perjuangan Nabi Ibrahim as. Kepasrahan dan kerelaan Nabi Ibrahim dalam mengorbankan anaknya yang dicintai secara otomatis menandakan kerelaannya pula dalam mengorbankan segala hal yang dimilikinya semata-mata karena ingin memperoleh ridha Tuhannya.

Sangat tidak berlebihan rasanya bahwa sikap rela berkorban dalam pelaksanaan ritual ibadah kurban mengandung makna sangat penting. Merupakan salah satu bentuk sikap moral yang apabila diaplikasikan oleh berbagai lapisan masyarakat dapat menjadi solusi bagi berbagai permasalahan kehidupan manusia dewasa ini. Adanya keinginan si kaya yang mau berkorban dengan hartanya untuk membantu si miskin tentu akan memberikan solusi bagi upaya mengentaskan kemiskinan dan penghapus jurang pemisah antara orang mampu dengan yang kurang mampu. Sehingga, akan tumbuh sifat saling menyayangi antar sesama hamba Allah.

Pesan moral bagi seorang pemimpin yang rela berkorban ditunjukkan melalui kebijakan-kebijakannya yang mengandung kemaslahatan bagi seluruh masyarakat. Bukan hanya kemaslahatan pribadi dan golongan tertentu. Yang terpenting bagi yang melakukan ibadah kurban: harus menumbuhkan sikap rela berkorban baik harta, jiwa, maupun tenaga dan fikirannya untuk menjalankan apa yang Allah perintahkan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim.

Pesan moral dari penyembelihan binatang kurban adalah, binatang merupakan simbol keburukan yang ada pada diri manusia. Sifat keburukan yang ada pada diri selalu diidentikan dengan sifat-sifat kebinatangan yang harus dibuang oleh manusia.

Allah dalam beberapa ayat al-Qur’an mengumpamakan sesuatu yang buruk yang ada pada diri manusia dengan binatang, bahkan diumpakan lebih sesat dari binatang ternak. Melalui pesan moral ibadah kurban, mengibaratkan sifat dan karakter kebinatangan yang tidak mempunyai aturan, yang menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsunya, meskipun harus menzalimi yang lain, harus dihapuskan dari dalam diri manusia.

Bukankah ketika Nabi Ibrahim as akan menyembelih Ismail, kemudian Allah menggantinya dengan seekor kibas mengandung pelajaran agar kita menghormati nyawa manusia? Juga, mempunyai makna pembebasan manusia dari kesewenang-wenangan manusia atas manusia lainnya? Ketika Allah mengganti Ismail dengan seekor kibas, tersirat pesan yang menyatakan agar manusia tidak lagi menginjak-injak harkat, martabat, dan derajat manusia.*

*Dari khutbah Idul Adha Ustadz Zulfirman di Central Edinburgh, Central, Hong Kong yang dilaksanakan bareng DDHK-GAMMI.

Baca Juga:

Khutbah Idul Adha: Momentum Meningkatkan Ketaatan Kepada Allah Ta’ala

Khutbah Idul Adha: 4 Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim dan Keluarga

Khutbah Idul Adha: Momentum Wujudkan Keimanan dan Keikhlasan Beribadah dengan Berkurban

 

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *