Beranda > Dunia Islam > Masjid-Masjid Amerika Ajarkan Amal Kebaikan, Bukan Radikalisme

Masjid-Masjid Amerika Ajarkan Amal Kebaikan, Bukan Radikalisme

Saleh Asal, kelahiran Mesir, datang di North Carolina, Amerika Serikat, tiga tahun lalu setelah mengikuti pendidikan teologi di Universitas Al-Azhar  Kairo. Saleh mengatakan, masjid dan Pusat Kajian Islam Raleigh adalah tempat yang damai, bukan tempat pelatihan bagi teroris. Ia mengatakan, tempat itu justr berusaha memerangi radikalisme dengan mendidik kaum Muslim sepenuhnya.

“Bukan hanya pendidikan, kami juga punya program olah raga, kegiatan sosial, kadang-kadang mengadakan piknik bersama, kami punya program khusus bagi remaja, sehingga mereka tidak merasa terasing,” ujar Saleh.

Sebagian orang berpendapat, perasaan terasing mengakibatkan tiga pemuda yang biasa pergi ke masjid ini nasibnya berakhir di pengadilan. Mohammad Omar Aly Hassan, Ziyad Yaghi, dan Hysen Sherifi dituduh merencanakan terorisme di luar negeri.

Laki-laki keempat, Daniel Patrick Boyd, pimpinan jaringan itu, telah mengaku bersalah. Jaksa mengatakan ia meninggalkan Masjid Raleigh itu karena merasa lembaga itu terlalu moderat.

Sebagai akibat penangkapan terkait terorisme atas hampir 200 Muslim sejak tahun 2001, sebagian warga Amerika mempertanyakan apa yang berlangsung di dalam masjid-masjid itu.

Di dalam masjid di Raleigh itu, Imam Sameh Asal berkhotbah tentang amal. “Memberi makan orang miskin dan yang berkekurangan, dan membantu orang-orang lainnya adalah juga bentuk ibadah yang lebih mendekatkan kita kepada Allah,” tegasnya.

Ia mengatakan, Islam mengajarkan menerima agama-agama lain dan kepatuhan terhadap hukum yang berlaku. Itulah pesan yang menurut para peneliti pada Pusat Penelitian Terorisme dan Keamanan Dalam Negeri diajarkan di masjid-masjid di seluruh Amerika.

Profesor David Schanzer dari Universitas Duke adalah salah seorang dari peneliti itu. Ia mengatakan, komunitas-komnitas Muslim yang kuat bisa berbuat lebih banyak untuk mencegah radikalisme daripada penegak hukum.

“Jadi, banyak hal yang bisa dilakukan, apakah membuka pusat komunitas, pendidikan, bank pangan, hal-hal yang yang semacam it. Kita membangun komunitas yang lebih kuat, jaringan yang lebih luas, itu akan membantu memastikan orang-orang tidak menyimpang, menjadi terasing, dan kemudian bersikap radikal,” ujarnya.

Sejak 2001, Schanzer mengatakan, banyak masjid berkembang menjadi pusat-pusat komunitas dengan beragam kegiatan seperti Masjid dan Pusat Kajian Islam Raleigh.

Ia merujuk kepada penelitian yang menunjukkan bahwa komunitas-komunitas Muslim berusaha menjadi sumber informasi yang kemudian berhasil menangkap para persangka teroris Muslim di Amerika.

Menurut Schanzer, ini merupakan bukti bahwa kecaman terhadap terorisme yang sering dilontarkan Sameh Asal dan imam-imam Amerika lainnya bukan basa-basi. (VOA News).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *