Wednesday, January 16, 2019
Beranda > BMI Menulis > Menjadi ‘Pengacara’ BMI Underpay, Main Petak Umpet di Bandara

Menjadi ‘Pengacara’ BMI Underpay, Main Petak Umpet di Bandara

lutfiana wakhidSunarti, BMI Hong Kong asal Banyuwangi Jawa Timur, tinggal satu bangunan denganku. Dia di lantai 12 sedangkan aku dilantai 30. Dia di gaji underpay HKD 2200, passport dan kontrak kerja dipegang oleh agent, serta tidak diberi libur selama 14 bulan.

Setiap ada kesempatan bertemu di bawah rumah, dia selalu cerita tentang keadaanya. Dia menjaga nenek dan kakek yang keduanya duduk di kursi roda. Tiap hari ia membawa mereka ke taman dan mendorongnya bergantian. Majikan dia “superpelit”, tapi kok ga juga kaya  ya…?

Siang itu, dia mengantar bobo dan kungkungnya (nenek & kakek) ke restoran yam cha (minum teh). Dia hanya bertugas mengantarnya, tapi tidak diajak ikut makan dan hanya diberi uang HKD 3 untuk beli roti sebagai gantinya makan siang. Aku bersama mamaku (panggilan nenek kujaga) menyapa dia ” lei yat ko yan hai lito comea, lei lopan leh?” (kamu sendirian di sini ngapain, majikanmu mana?).

Terus temanku bercerita dan mamaku bilang, “Lei lopan jisin, kem kwai kuhon ke, dongo tei yat jai yam cha lah, emsai hak he wo, lei hai yan ngo tu hai yan, yatyong a”(majikanmu gila, sangat pelit sekali, yuk yam cha bersama kita, tidak usah sungkan-sungkan, kamu manusia, saya juga manusia sama). Temanku menolaknya.

Sejak saat itu mamaku menyuruhku mengajak dia main ke rumah hanya sekadar ngobrol atau makan tanpa sepengetahuan majikanya dia.

Atas informasi dan cerita Sunarti, aku berusaha untuk sedikit memberi saran dan membantunya, untuk minta libur dan menuntut majikanya. Kupinjami dia MP3 untuk merekam percakapan dengan bobonya masalah gaji 2200 dan kenapa tidak sesuai dengan tanda tangan gaji dan tidak dikasih libur. Alhamdulilah, dia berhasil merekan percakapan itu.

Dengan berbagai alasan, akhirnya Sunarti diberi libur hari Jumat. “Mbak Narti, kamu jalan-jalan dulu di Tai Po, nanti jam 1 setelah aku ngasih makan mamaku, setelah sholat Dhuhur, kamu kuantar ke Christian Action di Jordan,” kataku. ” Iya Mbak, terima kasih,” jawabnya.

Jam 1 lebih aku mengajarinya naik Bus No. 271 jurusan Tsim Sha Tsui yang melewati Mong Kok, Yau Matei, dan Jordan dari Terminal Taipo Centre dengan memakai patadong (Octopus Card), karena dia tidak punya patadong, aku yang mengalah harus bayar pakai uang receh.

Sesampainya di Christian Action, kami daftar dan nunggu dipanggil, setelah sampai pada urutan, kami dipanggil untuk ditanyai apa maksud kedatangan kami. Sunarti bercerita apa adanya, lalu Kak Ana, salah satu staf CA, membuatkan surat break kontrak yang harus dikirim ke majikan dan imigrasi Hong Kong.

Setelah urusan selesai, aku pun berpamitan pulang karena aku tidak libur dan mamaku sendirian di rumah. “Nanti kamu terserah mau jalan-jalan ke mana, pulangnya naik bus yag sama, kalau ‘ga ngerti telefon aku,” sambil kuserahkan patadongku ke dia.

Ternyata Allah punya rencana baik yang aku tidak mengerti. Jam 7.30 malam Sunarti sudah pulang sampai di Tai Po. Di taman bawah rumah Narti telepon aku. “Assalamu ’alaikum Mbak, aku dah pulang, sekarang aku mau mengembalikan patadong ke rumahmu”.

Setelah kami ngobrol, sampai jam 8 malam, saat mau menyerahkan patadong kepadaku, dompet yang berisi ID Card Hong Kong dan beberapa uangnya sudah tidak ada dalam tas. Dia pun takut dan kebingungan.

Aku mengantarnya dia ke taman bawah rumah untuk mencari dompetnya, mencarinya ke beberapa lap sap dong (tempat sampah), tidak kami temukan juga. Akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Police Station Taipo, melaporkan kehilangan dompet yang berisi ID Card HK. Polisi menanyakan passport, tapi dia tidak ada passport. Kejadian ini pun langsung diberitahukan kepada majikanya.

Syarat untuk membuat ID Card adalah passport dan kontrak kerja. Majikan setengah tak percaya dan mulai curiga dengan Sunarti. Ia sering menggeledah kwaidong (lemari slorokan) tanpa sepengetahuan Sunarti.

Majikan baru yakin begitu Sunarti mendapat surat keterangan dari polisi bahwa kehilangan dompet yang berisi ID Card, akhirnya majikan membantu Sunarti untuk mengambil passport dan kontrak kerja di agent yang kemudian diserahkan ke Sunarti.

Saat kami mau ke imigrasi untuk membuat ID Card, polisi Taipo menghubungiku via telefon bahwa ada orang yang menemukan dompet berisi ID Card HK. Langsung saja kami putar arah menuju kantor Polisi Tai Po.

“Alhamdulilah, ternyata Allah punya rencana baik untukmu,” kataku. “Passport dan kontrak kerjamu bisa kembali gara-gara dompet hilang.” Atas kepercayaan Sunarti kepadaku, kontrak kerja dan passportnya dititipin ke aku, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya sewaktu-waktu di interminit, dipulangkan langsung ke bandara, masih bisa menuntut majikan.

Proses break kontrak jangka waktunya 1 bulan, terhitung sejak surat dikirim. Seminggu sebelumnya harus keluar dari rumah majikan, pagi setelah jalan-jalan bersama dua manula, sampai rumah Sunarti disuruh cap ye (kemas-kemas) baju milik Sunarti. Saat itu juga ia disuruh tanda tangan paksa oleh anak majikan sambil dimarahi dan langsung diantarkan ke airport Hong Kong.

“Mbak aku diinterminit dan langsung diantar ke bandara, waktu itu aku lagi di bawah, baru pulang dari pasar!” Sunarti menelponku.  “Oke, nggak apa-apa, ikuti aja apa maunya dia, toh kamu gak akan bisa cek in, karena ga ada pasport,” jelasku.

Sesampai di Bandara International Hong Kong Chek Lap Kok, Sunarti diantarkan menuju tempat cek in. Majikan langsungmenyerahkan tiket, tapi begitu ditanyakan passport, ga ada, jelas ‘ga bisa cek in!

“Lei wuciu hai pintoa (paspormu di mana)?” tanya si majikan sambil membentak. “Ngo wuciu hai ngo kace (pasporku di kakakku),” jawab Sunarti.  “Faiti ta pei goi, kiu goi kole (cepat telefon dia, suruh dia kemari),” majikan sambil marah-marah.

“Assalamu ’alaikum, Mbak, aku sudah di bandara, disuruh cek in, tapi ga bisa, sampean suruh ke sini,” Narti menelponku. “Wa’alaikum salam, tunggu aku di bandara, setelah sholat dan makan siang aku menyusulmu, pegang HP-mu, jangan sampai dirampas majikan,” jelasku.

Saat itu juga aku menelepon Kak Ana, staf Christian Action. Aku ceritakan kejadian yang sedang menimpa temanku.

Setelah makan siang aku ceritakan ke mamaku, dan dia ngasih aku waktu keluar. Sebelum keluar rumah, aku menelpon Sunarti. “Mbak, coba cari kesempatan, minta izin majikan ke jiso (toilet), tinggalkan tasmu di situ, nanti aku yang ambil, kamu lari ke arah menuju bus way, cari bis jurusan TST, dan turun di Jordan, nanti telepon Kak Ana ya!”

Majikan tanpa menaruh rasa curiga mengizinkan Sunarti untuk ke jiso. Terlepas dari pengawasan sang majikan, Narti lari menuju terminal bus dengan bantuan teman yang kebetulan hari itu libur dan diantarkannya dia naik bus jurusan Tsim Sha Tsui.

Setelah mendapatkan bus yang dia cari yang membawanya ke Jordan, dia menelponku. “Salam, Mbak, tas ku ta tinggal di bandara, tolong diambil, di deretan kursi tunggu warna biru di gate G”.

Tanpa ganti baju yang kupakai dari pasar dan jilbab instan, sambil membawa je caik (tas belanja beroda dua) yang kupakai untuk belanja ke pasar, aku menuju bandara dan langsung ke tempat yang sudah dijelaskan oleh Sunarti.

Sebelum aku mendekati tas itu, aku melihat majikan Sunarti yang mondar-mandir kebingungan menunggu Sunarti yang tadi pamit ke jiso ga kembali. Dalam pikirku, “Dasar licik, sekarang rasain lo gantian aku yang ngerjain kamu, mana ada cek in ga pakai paspor, emang pulang ke Indonesia mau renang di lautan, mo kau joa!” Dalam hati aku ngedumel sendiri sambil melihat si majikan dari jarak jauh.

Aku pun terus berdoa, “Ya Allah, mudahkanlah urusan temanku, Sunarti, dan mudahkanlah aku untuk membawa lari tas itu, Ya Allah, Aamiin Ya Rabb”.

Beberapa menit kemudian, sang majikan itu meninggalkan tempat itu, aku pun langsung mengambil kesempatan itu untuk “membawa lari” tas Sunarti yang kutaruh di je caik. Dalam pikirku. “Aku cerdas juga ya, bawa je caik, kalau ga bawa je caik bagaimana aku membawa tas seberat ini?”

Belum beranjak jauh dari situ, aku bertemu dengan majikannya dia. Rupanya dia mengenaliku dan berusaha mengejarku.  Aku pun berusaha mencari tempat bersembunyi dari kejaran dia dan terus berdoa. “Ya Allah, tunjukkan jalan-Mu yang aman jauh dari kejaran dia”. Aku bersembunyi di balik kerumunan orang dan kebetulan di situ ada telepon umum sambil mengawasi majikan yang matanya “jelalatan” mencariku.

Sekira suasana aman, aku langsung berlari menuju terminal mencari bus jurusan TST. Alhamdulilah, di terminal aku ga ketemu dia dan bus pun datang mau berangkat, tak henti-hentinya aku mengucapkan hamdalah, karena Allah banyak memberi kemudahan padaku dan juga temanku.

Sambil duduk di bus, aku rapikan jilbabku yang mencong saat kupakai berlarian. Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Kejar-kejaran sama majikan orang! Baru kali ini dech main kejar-kejaran di Hong Kong. Hmmmm… jadi teringat masa kecil, waktu main petak umpet!

Sunarti terlebih dulu sampai di CA. Selang 1 jam aku pun sampai di CA dengan tubuh berkeringat dan wajah kemerah-merahan. Maklum, lagi musim panas dan abis lari-lari.

Sunarti langsung memelukku danmenangis. “Ngapain nangis, udah sampai sini dengan selamat kok nangis!” kataku.  “Aku masih takut, Mbak,” kata dia sambil mengusap air matanya. “Sudah daftar absen belum?” tanyaku. “Sudah mbak, nunggu dipanggil Kak Ana,” sambil sesenggukan, wajah pucat pasi, karena dari pagi belum sarapan.

Kak Ana memanggil Sunarti. Aku pun ikut masuk menemani Sunarti menghadap Kak Ana. Aku menceritakan kejadian di bandara dengan majikanya Narti dan Kak Ana tertawa terbahak-bahak. “Goblok banget itu majikan, pinteran Lutfi!” kata Kak Ana sambil menepuk pundakku.

Untuk masalah tempat tinggal Sunarti, aku menyarankannya tinggal di Shelter Iqro Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK), selama proses labour.

Saat itu juga, Kak Ana membuatkan surat Complaint Letter yang dikirim ke majikan dan labour Dept. Hong Kong.  Tiga minggu kemudian, labour mengirim surat ke Narti dan majikan untuk meeting di labour Shatin.

Aku menemani Sunarti meeting di labour Shatin. Si Bobo datang bersama anak perempuanya. Kami berdua dipanggil ke ruangan oleh officer. Meeting pun dimulai.

Sang officer perempuan memulai pembicaraan, membacakan tuntutan yang diajukan oleh Sunarti,  dan majikan (anak perempuan bobo) membantah dan tidak mengakui perbuatanya bahwa dia telah menggaji underpay kepada sang pembantu.

Karena Sunarti tidak bisa berbahasa Kantonis dengan lancar, aku yang mencoba membela Sunarti dengan saling membantah apa yang dikatakan wanita Cina daratan itu.

“Lei pingkoa , lei mo cikak dongo kong ye (kamu siapa, kamu ga punya hak ngomong dengan aku),” suara majikan yang seperti radio butut itu memecahkan suasana ruangan yang tadinya tenang sambil berdiri menggebrak meja officer.  Aku pun sambil berdiri menimpalinya: “Ngo hai goi bangyau, ngo pong goi, lei hai pingko, lei tu mo cikak dongo kong taiseng” (aku adalah teman dia, aku aku menolongnya,  kamu siapa, kamu ga punya hak ngomong keras dengan aku). Aku pun sambil melotot dan suara yang keras. Tidak melotot pun mataku udah lebar dari sononya, hehehe….!

Keributan kami begitu keras dan sampai terdengar oleh orang-orang di ruang sebelah. Beberapa dari mereka melihat perserutuan di ruangan kami. Hampir 1 jam perserutuan belum juga selesai dan belum menemukan jalan damai.

Hasil rekaman di MP3 kukeluarkan dengan suara yang jelas bahwa si Bobo menggaji Sunarti HKD2200, sudah menjadi bukti yang cukup kuat untuk maju sidang. Majikan Sunarti langsung diam seribu bahasa. Aku yakin, majikan ga akan berani sidang karena si Bobo sudah tua.

Karena meeting 1 jam belum menemukan jawaban damai, akhirnya officer mengambil keputusan untuk dilanjutkan ke tribunal, meja hijau alias sidang. Aku pun mengangguk dan bilang hoak (ok) yang artinya setuju.

Si majikan minta tambah waktu lagi beberapa menit untuk negoisasi denganku, tawar menawar dihadapan officer, tentang tuntuan HKD 32.000. Dia menawar HKD 20.000. Aku ga mau, lalu menaikan lagi 5.000, aku tetap juga ga mau, memilih untuk sidang, akhirnya si majikan mau bayar HKD 30.000. Sebelum mengambil keputusan mau, aku telefon Kak Ana CA untuk meinta pendapatnya dan ia bilang OK. Aku dan Sunarti mau menerima HKD 30.000 itu.

Saat itu juga di depan officer majikanya Sunarti menyerahkan uang sebesar HKD 30.000 tunai. Kemudian sang officer membuatkan kami surat pernyataan serah terima dan dinyatakan damai tidak boleh menuntut majikan lagi karena sudah di bayar.

Alhamdulillah, tak henti-hentinya aku bersyukur, tugasku sudah selesai. Sunarti yang tinggal di Shelter Iqro DDHK telah pulang ke Indonesia dan tidak kembali ke Hong Kong lagi. (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

 

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

2 thoughts on “Menjadi ‘Pengacara’ BMI Underpay, Main Petak Umpet di Bandara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *