Tuesday, November 20, 2018
Beranda > BMI Menulis > Pendidikan Rendah Tak Berarti Kualitas Diri Juga Rendah

Pendidikan Rendah Tak Berarti Kualitas Diri Juga Rendah

Lina ApriliantiOleh LINA APRILIANTI

SEBAGAI warga Indonesia, walaupun aku hanya seorang BMI, aku sangat tidak suka jika mendengar orang-orang meremehkan negeriku. Entah itu orang Amerika, orang Cina, orang Malaysia, Singapura, ataupun orang Hong Kong, aku tidak akan menyukai pernyataan-pernyataan mereka yang mendriskiminasi BMI.

Tiga tahun yang lalu, kekita aku belum lama bekerja pada majikanku di Yuen Long, kami mengunjungi rumah temannya di Kennedy Town. BMI yang bekerja di rumah itu, sebut saja namanya Yuli, menyapaku dengan bahasa Inggris: “You from Philipine?” Dengan spontan saja aku jawab: “Pakai bahasa Indonesia saja Mbak, aku ini orang Jawa kok, syukur-syukur pakai bahasa Jawa biar ‘gak ilang jawane, he he…”.

“Idihhh Mbak, majikanmu itu dulunya belagu banget, katanya ‘gak akan ngambil pembantu dari Indonesia karena orang Indonesia sekolahnya rendah dan tidak bisa bahasa Inggris,” cetus Yuli padaku. Mataku terbelalak mendengar kalimat itu. Senyumku sinis. Aku pun menyahut,  “O ya? Kayaknya perlu dibuktikan bahwa yang dia bilang itu salah ya Mbak, hmmmm”.

Yuli meneruskan ocehannya sambil tetap mengawasi anak-anak bermain. “Iya Mbak, lha wong sudah sua kali dia ngambil pembantu Philipine, tapi ‘gak ada yang betah kok, padahal pembantu yang pertama itu ‘kan pernah bekerja di rumah kakaknya finish kontrak lho. Emang majikanmu itu terlalu banyak ngomong, banyak aturan di rumahnya, mana ada anak philipine yang mau digituin. Mereka ‘kan berpendidikan tinggi.”

Yuli sudah bekerja pada majikannya selama tiga tahun. Majikanku adalah teman sekolah majikan Yuli saat masih SD. Sampai sekarang pun mereka masih sering saling mengunjungi. Maka aku percaya saja kalau majikanku pernah bilang begitu, wataknya sangat bisa dibaca, mereka orang-orang yang menginginkan perfection dalam rumahnya, terbukti dengan setumpuk peraturan ditulis dalam empat lembar kertas bolak-balik yang dia berikan padaku pada awal-awal aku bekerja di situ.

Aku adalah orang yang sangat menyukai tantangan. Seolah ditantang untuk membuktikan kalimat yang pernah dilontarkan oleh majikanku itu. Aku mulai dengan penerapan bahasa Inggris yang “benar”, mulai dari pengucapan, tense, continues tense, dan perfect tense pun aku gunakan, karena itu juga jadi tugas utamaku untuk mengajari anak-anaknya berbahasa Inggris dengan baik dan benar.

Seolah-olah aku berganti job dari pembantu rumah menjadi guru privat bahasa Inggris untuk kedua anak majikanku. Aku pun sangat semangat dan dengan senang hati aku sambut job terbaruku itu. Walau aku tetap menjadi pembantu yang harus mengayunkan sapu, pel, mencuci baju, menyusui, menyuapi mui-mui, mengelap seluruh bagian rumah, dan lain-lain, tetap saja aku berusaha sekuat tenaga untuk sebuah nama Indonesia itu, berhubung aku ini orangnya keras kepala, sifatku itu aku manfaatkan untuk terus membuktikan bahwa majikanku telah salah mendeskriminasi orang Indonesia seperti itu.

Waktu berlalu. Minggu demi minggu kulalui. Bulan demi bulan pun silih berganti. Selama satu tahun aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengajari koko bahasa Inggris, tapi hasilnya nggak seperti yang majikanku inginkan. Kalau mui-mui malah lebih baik karena dia masih belajar ngomong. Umurnya saja baru satu tahun.

Akupun mencari info ke sana ke mari bagimana caranya agar koko bisa pintar seperti keinginan orang tuanya. Dari sebuah buku aku temukan bahwa orangtua berperan sangat penting dalam mendidik anak karena anak pasti bercermin pada orang tuanya. Aku pun memberanikan diri menyuarakan cara itu.

Suatu malam setelah aku menidurkan mui-mui, aku hampiri dhai-dhai. “Madam, do you realise why koko is not getting much better in speaking English?” tanyaku. Dia bilang, “I don’t know, Lina, because I think you already worked very hard to teach him. I think no problem with you”.

Sahutku, “Yes, of course, the problem is not me, but you and sir, do you know why?” Belum sempat dhai-dhai menjawabku, dia masih berpikir, aku teruskan ocehanku, “Because you keep speaking Cantonese with him, while he is learning English, everybody in this house must also speak English, as you know, teaching a kid is not an easy job. I already do my part, please as a parent do your part too.” Aku pergi meninggalkan majikanku karena aku dengar suara mui-mui dari kamar tidurku.

Setelah malam itu berlalu, setiap hari jarang terdengar bahasa Kantonis di rumah, kecuali kalau dhai-dhai tidak bisa mengucapkan suatu kata dalam bahasa Inggris, atau ketika nenek dan kakek datang berkunjung.

Setiap hari aku mengajari koko spelling tidak kurang dari 10 kata, maka dia pun bisa membaca, menulis, dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan baik dan benar. Layaknya seorang private tutor, aku mengajari koko dengan hati dan misi walau gajiku nggak ditambahi tapi misiku untuk mengharumkan nama Indonesia sangatlah tinggi.

Tahun 2010 koko masuk SD di Tuen Mun. Sekolah tersebut menyediakan PR online dalam bahasa Inggris dan bahasa Kantonis yang mereka namakan SMART ABC. Dalam mengerjakan PR bahasa Inggris, aku yang mendampingi, karena majikanku kalau pulang kerja sudah terlalu lelah untuk mengajari anaknya mengerjakan PR. Mereka hanya double check PR tersebut sudah dikerjakan dengan benar atau belum.

Koko dapat juara 2 dan juara 1 SMART ABC dalam 2 semester di kelas 1. Dhai-dhai dan sinsang tersenyum riang atas keberhasilan koko.

Mui-mui pun tak kalah prestasinya. Dia sekolah di Zenith International School tahun 2010 karena umurnya baru 2 tahun 2bulan. Dia masuk kelas Nursery. Pada awal masuk kelas, tiap hari dia pasti menangis tersendu-sendu sampai-sampai dhai-dhai sedih setiap kali pulang mengantar mui-mui. Aku yakinkan dhai-dhai kalau mui-mui itu anak yang cerdas.

“Kalau ‘gak cerdas pasti dia diam saja di sekolah karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini anak ‘kan nangis pertanda dia ingin mengatur kita untuk menuruti keinginannya, yaitu bermain. Cerdas ‘kan, dia keluarkan jurusnya menangis?”

Dhai-dhai hanya tersenyum. Dengan terus berdoa aku yakin mui-mui pasti dapat nilai bagus. Ternyata, katakanlah semester pertama, nilainya C, B- dan B itu yang terbaik. Semester ke-2 nilainya yang terendah adalah B, yang terbanyak B+, ada beberapa A- dan 2A,

Alhamdulillah, puji syukurku ke hadirat Allah SWT telah mencerdaskan anak-anak majikanku. Akhirnya dhai-dhai pun tidak lupa mengucap terima kasih padaku. Dia mengakui kualitas kerja orang Indonesia jauh lebih baik dan bahasa Inggris yang aku ajarkan pun jauh lebih baik daripada pembantunya yang dulu, padahal ia itu lulusan universitas. Metodenya itu yang dikagumi oleh majikanku. Aku berani menyuruh majikanku untuk  “do their part”.

Jika saja majikanku setiap hari masih tetap komunikasi dengan anak-anaknya dalam bahasa Kantonis, mungkin gak ada prestasi-prestasi seperti itu.

Mari buktikan kepada dunia, pendidikan rendah bukan berarti kualitas kita rendah pula! (Lina Aprilianti, BMI Hong Kong).*

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *