Beranda > Featured > Sinau dari Ibadah Haji dan Kurban

Sinau dari Ibadah Haji dan Kurban

Haji dan Kurban H. Ahmad Fauzi QosimMEMBUMIKAN NILAI-NILAI KESHALIHAN SOSIAL DAN PEMBELAJARAN DIALOGIS DENGAN AL HAQ MENUJU INTERNALISASI HAQ

DDHK News – Jakarta — Tak dapat disangkal bahwa sesungguhnya setiap manusia dalam agama apapun, secara fitrah berkepentingan untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Tuhannya. Oleh karenanya dengan bijak Tuhan selau menentukan tempat tertentu bagi setiap umat beragama untuk berkumpul melakukan peribadatan dan berkomunikasi dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi ummat pengikut agama Ibrahim AS, Allah SWT telah menentukan tanah haram Mekkah sebagai tempat untuk menjalankan syari’at ibadah haji dan kurban sejak Ibrahim AS dan Ismail AS menerima amanat peribadatan tersebut hingga Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan syari’at yang diamanatkan Allah SWT kepada kedua moyangnya tersebut.

Setelah khalilullah Ibrahim AS. selesai membangun Baitullah, dikatakan kepadanya : “Wahai Ibrahim, seru dan perintahkanlah manusia untuk melaksanakan haji !”. Ibrahim berkata : “ Ya Rabb, bagaimana aku bisa melakukannya, sedangkan suaraku tidak sampai (karena jauh dan tidak ada orang disekitarnya)” Allah SWT berfirman “lakukanlah (serulah) dan Aku yang akan menyampaikan kepada mereka”. Maka nabiyallah Ibrahim menaiki bukit Abi Qais, yang berteriak : “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kalian semua untuk berhaji di Batullah ini, supaya kalian dibalas/dimasukkan ke surga dan diselamatkan dari neraka, lakukanlah ibadah haji !”. atas seruan tersebut setiap manusia yang ada di tulang sulbi laki-laki dan rahim wanita, menjawab dengan untaian kalimat yang indah, yaitu talbiah : Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika La Syarika Laka Labbaik, Innal Hamda Wan Ni’mata laka wal Mulk La Syarikalak. Ibnu Abbas mengatakan itulah asal mula talbiyah itu dikumandangkan, yaitu ketika Allah SWT memerintahkan kepada Ibrahim supaya menyeru manusia untuk menunaikan haji. (Al Qurthuby 2:2097).Berkenaan dengan peristiwa tersebut Allah SWT mengabadikannya dalam Al Quran sebagaimana tertulis diatas (QS. 22:27-28).

Setiap tahun, jutaan jamaah haji dari seluruh pelosok dunia datang berbondong-bondong menuju dua kota suci, demi menunaikan rukun Islam kelima. Pada tahun 1435 ini, jamaah DD Travel kembali menjadi bagian dari jutaan kaum muslimin dunia dari berbagai latar belakang, suku dan bangsa berbaur menjadi satu, berpadu dalam ibadah yang sama. Sudah pasti, hati mereka penuh harap agar ibadah yang diwajibkan sekali seumur hidup dapat diterima sebagai haji mabrur. Apalagi, ganjaran sebuah haji yang mabrur adalah sebaik-baik balasan. Rasulullah SAW bersabda: “… dan tiada balasan bagi haji mabrur selain surga (HR. Bukhari dan Muslim).

Sudah menjadi kaidah, bahwa tidaklah Allah SWT memerintahkan suatu perkara melainkan dalam perkara yang diperintahkan tersebut ada manfa’atnya, pasti ada kebaikan bagi manusia, dan tidaklah dilarang dari suatu perkara melainkan dalam perkara yang dilarang tersebut ada madharatnya. Ayat diatas menyatakan “Liyasyhaduu  Manaafi’a Lin Naas…” supaya mereka bisa menyaksikan banyak manfaat/faidah dari ibadah haji tersebut.

(Baca juga:)

http://localhost/project/personal/ddhongkong.org/ddhongkong.org/beberapa-faedah-ibadah-haji/

Aspek-aspek Ukhrawi Ibadah Haji

http://localhost/project/personal/ddhongkong.org/ddhongkong.org/ibadah-haji-dan-kurban-yang-saling-berpautan/

Ada beberapa point penting yang dapat kita sarikan dari Sinau Haji dan Kurban. Pertama, mengacu pada QS. al-Kautsar ayat kedua, secara normatif dua ibadah tersebut merupakan syariat yang terkait dan disyariatkan pada tahun yang sama yaitu pada tahun ke-6 hijriah.

Kedua, syariat tersebut ditetapkan oleh Allah bukan tanpa tujuan tetapi sesungguhnya melalui sarana ibadah haji dan kurban manusia dapat berkomunikasi secara spiritual dengan Tuhannya. Secara garis besar ada dua tujuan utama dalam ibadah haji dan kurban yaitu pertama, melalui syariat ibadah tersebut Allah sengaja memberikan kesempatan kepada manusia untuk berkompetisi dalam hidupnya, memilih sesuatu yang baik diantara yang jelek bagi dirinya baik secara individual maupun secara komunal dan sosial.

Ketiga, melalui sarana ibadah manusia dapat secara bertahap menuju kesempurnaan jiwa yang tidak akan berakhir dengan kematian dan tidak berakhir dalam batas-batas di dunia yang fana. Ibadah mendorong setiap individu untuk berkomunikasi secara intens dengan al Haqq menuju internalisasi diri yang haq.

Adapun Hikmah yang dapat dipetik dari dua syariat tersebut adalah pertama, bahwa kesalehan seseorang dapat diukur dari dua dimensi yakni dimensi pribadi dan dimensi sosial. Saleh secara pribadi diukur dengan seberapa kuat keimanan dan ketekunan seseorang melakukan ibadah secara ikhlash dan ittiba’ Rasulullah SAW. Sedangkan saleh secara sosial diukur dari seberapa besar kepedulian seseorang terhadap kehidupan sosial, sebagai implementasi nilai-nilai agama yang rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam. (H Ahmad Fauzi Qosim/ddtravel.co.id)

DDHK News
DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *